Datang di Rumdin Wali Kota Kediri, Keluarga Atlet Sea Games Asal Kediri Tempuh Jalur Hukum

Kediri, koranmemo.com — Setelah keluarga salah satu atlet cabang olahraga (cabor) senam dari Kota Kediri berinisial SS menceritakan kronologi pencoretan dari pemusatan latihan nasional (Pelatnas). Kini keluarga dan pelatih senam Kota Kediri bersama kuasa hukum mendatangi Rumah Dinas (Rumdin) Wali Kota Kediri, Minggu (1/12) pagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, pencoretan atlet asal Kota Kediri ini alasannya cukup janggal. SS yang belum genap berusia 18 tahun itu dituding sudah tidak perawan. Akibatnya, SS sempat down dan beberapa hari tidak masuk sekolah bahkan memutuskan untuk tidak berkecimpung sebagai atlet senam.

SS tiba di Rumdin Wali Kota Kediri didampingi orang tua, pelatih, dan kuasa hukum. Mereka disambut langsung oleh Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar. Pertemuan berlangsung tertutup, karena Mas Abu (sapaan akrab Wali Kota Kediri) ingin mengetahui duduk permasalahan yang menimpa SS.

Akhirnya, Wali Kota Kediri melakukan jumpa oers dengan awak media. Abu menjelaskan, SS sudah mengikuti Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) selama 10 tahun di Gresik, seharusnya ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Jawa Timur (Jatim). Namun, wali kota  merasa kecewa karena saat mengetahui kronologis dari pihak keluarga saat melakukan pertemuan bersama pelatih senam Kota Kediri, dan kuasa hukum.

Karena, saat Mas Abu menanyakan secara langsung kepada SS mengenai permasalahan yang dihadapi, menurutnya SS anak yang baik dan mempunyai segudang prestasi (49 medali). “Insyaallah, anak ini bisa membawa nama baik Indonesia. Tapi justru mendapat perlakuan kurang manusiawi dari pelatihnya,” jelasnya.

Menurut Abu, kejadian ini bukan kali pertama dialami oleh atlet asal Kota Kediri, dari hasil pembahasan dengan pelatih senam Kota Kediri, ini sudah kedua kalinya. Dia berharap, kejadian seperti ini tidak terulang kembali pada atlet asal Kota Kediri, umumnya atlet di cabor lainnya.

Wali kota muda ini mengaku akan menyampaikan kepada Gubernur Jatim, karena kejadian ini juga menyangkut nama baik Jatim. “Seandainya memang anak kami ini kurang disukai atau kurang baik, pengambilan keputusan diharapkan lebih beretika. Misalnya ditegur atau bagaimana yang penting caranya baik-baik. Supaya, anak bisa bangkit kembali,” ujarnya.

SS, kata Abu, dunianya memang di dunia atlet senam dan kejadian ini bisa mematahkan semangat seorang atlet, terlebih lagi usianya masih muda. “Saya mendukung langkah yang diambil oleh keluarga melalui jalur hukum. Kami juga didampingi dari Komisi X DPR RI, karena atlet tidak ada yang instan. Semua dididik mulai kecil,” imbuhnya.

Abu mengatakan, kata-kata yang ditujukan kepada SS sangat mengejutkan dan kurang pantas diberikan kepada anak. Bahkan, Abu melihat sendiri hasil tes yang dilakukan SS dan hasilnya tidak seperti yang dituduhkan kepada SS. “Ternyata, anak saya ini masih ‘perawan’. Jadi yang dituduhkan tidak sesuai,” ucapnya.

Wali Kota Kediri Akomodir Kepindahan SS 


Setelah Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar melakukan pertemuan bersama keluarga SS, pelatih senam Kota Kediri, dan kuasa hukum, langkah yang diambil Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri adalah menarik kembali SS untuk pindah ke Kota Kediri.

Wali Kota Kediri merencanakan mulai Senin (2/12), pihaknya akan mengurus semua berkas kepindahan SS dari Gresik ke Kota Kediri. “Dia (SS) akan pindah dari Gresik mulai Senin, saya akan urus berkasnya. Kalau perlu bukan dia yang mengurus, nanti saya perintahkan Kepala Dinas saya yang mengurus,” jelasnya.

Mas Abu (sapaan Wali Kota Kediri), juga meminta kepada seluruh pemangku kebijakan terkait atlet khusunya yang mempersiapkan pertandingan di Indonesia, untuk tidak mencederai perasaan dan semangat atlet. “Coba bayangkan, ada tuduhan seperti itu ke anak-anak. Karena dia (SS) belum dewasa,” katanya.

Dengan tuduhan seperti itu, lanjutnya, bagaimana SS harus mengahadapi dan mengambil tindakan saat bertemu teman-temannya. Tuduhan yang disampaikan pasti mempengaruhi kondisi sikologi SS. “Dia (SS) ini belum dewasa, kasihan kalau sikologinya terganggu,” imbuhnya.

Menurutnya, Gubernur Jatim perlu mengambil langkah terhadap kasus tersebut, terlebih lagi mengenai pelatih. Seharusnya, pelatih bisa menjadi orang tua atlet saat berada di tempat latihan. Bukan justru melontarkan tuduhan yang kurang pantas ke atlet. “Seharunya pelatih bisa membesarkan hati atlet yang mengalami penurunan prestasinya. Saya harap, kejadian ini tidak terulang kembali,” tuturnya.

Sementara itu, Kuasa Hukum keluarga SS, Imam Muklas mengatakan, sebagai perwakilan keluarga dengan adanya dukungan dari Wali Kota Kediri serta Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Hakim Bafagih, sebagai modal penting dan menjadi semangat baru untuk memperjuangkan hak-hak SS.

Abdul Hakim Bafagih, Anggota Komisi X DPR RI menambahkan, sebagai salah satu anggota yang membidangi pendidikan, olahraga, dan sejarah, akan menyampaikan hal ini ke Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). “Sebenarnya ada kejadian apa di KONI ini, jangan sampai kejadian-kejadian seperti ini terulang,” jelasnya.

Hakim menilai, performa dan prestasi SS cukup bagus, karena sejak SD sampai SMA sudah mengumpulkan 49 medali. “Saya juga melihat video saat atlet bertanding dan memang performanya bagus. Jangan sampai ada hal-hal yang tidak jelas dituduhkan ke atlet. Saya akan menyampaikan kepada Kemenpora secara langsung, dikhawatirkan permasalahan seperti juga dialami atlet-atlet yang lain,” tegasnya.(Adv)

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date