Dari Tukang Pijat Hingga Pengrajn Akik Tiban

Share this :

Kediri, Koran Memo – Demam batu akik kali ini memang tidak hanya membawa berkah bagi para penjual dan pecinta batu akik. Para pengrajin batu akik pun kecipratan rezeki. Misalnya Subroto, salah satu pengrajin batu akik asal Lingkungan Betik Kelurahan Ngampel Kecamatan Mojoroto yang sebenarnya bukan pecinta batu akik, akhirnya kebanjiran order lantaran banyak orang tahu keahliannya memoles akik hingga menjadi barang bernilai jual tinggi.

Subroto memperlihatkan akik yang baru saja ia bentuk (kurniawan/memo)
Subroto memperlihatkan akik yang baru saja ia bentuk (kurniawan/memo)

Subroto, laki-laki berumur 51 tahun yang sudah dikaruniai 3 orang anak ini sebenarnya bukan pecinta atau pengoleksi batu akik. Ia hanya kebetulan membantu salah satu teman untuk membentuk atau menghaluskan sebuah batu akik menjadi akik siap pakai. Dari situ, setiap harinya, Subroto mengaku selalu mendapatkan order dari seseorang untuk memoles batu miliknya. “Setiap hari selalu ada saja,” ujarnya.

Proses pembuatan batu akik sendiri tidak membutuhkan waktu lama. Hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 jam untuk memoles sebuah batu akik terlihat halus dan indah. Proses awalnya yakni memecah batu dari yang awalnya sebuah bongkahan batu. Setelah itu, batu dihaluskan dengan menggunakan gerinda sehingga hampir menyerupai bentuk yang diinginkan. Sampai proses tersebut, Subroto hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit.

Setelah hampir menyerupai bentuk yang diinginkan, batu kemudian kembali dihaluskan dengan alat lain. Proses itu berlangsung berkali-kali hingga kehalusan diperoleh sesuai yang diinginkan. Subroto diketahui juga menggunakan batu hijau sebagai finishing prosesnya.

Sekali mengerjakan sebuah batu, Subroto mengaku tidak pernah menentukan ongkos. Namun, menurut Subroto, ongkos standar yang biasa di pasaran sekitar Rp 30.000 hingga Rp 35.000. Lantaran Subtoro tidak menentukan biaya ongkosnya, justu Subroto sering mendapatkan uang lebih dari biaya pengerjaan.

Subroto mengaku baru sekitar 3 bulan menjadi pengrajin akik. Sedikit demi sedikit, ia membeli alat-alat untuk menghaluskan batu akik dari hasil usahanya tersebut. Harga alat yang dibelinya untuk membentuk akik sekitar Rp 1 juta. Beruntung, istri dan ketiga anaknya juga menyukai batu mulia tersebut. Bahkan, istri Subroto juga banyak memakai batu akik. Ada yang berupa kalung dan lainnya.

Sebelum menjadi pengrajin, Subroto juga sempat menyukai batu akik. Namun tidak seperti pecinta akik lainnya. Bahkan hingga kini, jenis dan nama-nama batu akikpun, Subroto mengaku tidak hafal. “Pernah ada yang tanya ini batu apa. Ya saya nggak tahu,” imbuhnya.

Sehari-hari, Subroto sebenarnya bekerja sebagai tukang pijat. Bahkan sebelumnya, ia juga merupakan bekas pemain bass yang sering manggung dengan grup orkes melayunya. “Kalau saya bekerja apa saja mas. Tukang pijat iya, pengrajin akik iya, kuli juga bisa,” ujarnya.(kur)