Dari Striker ke Kiper, Banggakan Keluarga dengan Prestasi

Kemas Irsannur Yusachmi

Batu, Memo – Berawal dari posisi penyerang (striker), Kemas Irsannur Yusachmi kini justru menjadi penjaga gawang (kiper) andalan. Posisinya itu pula yang membuatnya meraih prestasi membanggakan, tak hanya di dalam negeri, melainkan juga mancanegara.

Kemas Irsannur Yusachmi kipper muda berbakat (ist)
Kemas Irsannur Yusachmi kipper muda berbakat (ist)

Bakat sepak bola Irsan, panggilan akrabnya, memang sudah tampak dari kecil. Dia mengawali debut permainannya di SSB Satria Yudha saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).  “Ketika itu masih kelas 2 SD,”kenangnya.

Namun ternyata, perjalanan Irsan di dunia sepakbola awalnya bukan sebagai kiper. Remaja yang baru menamatkan pendidikannya di SMPN 2 Batu itu dulunya dipasang sebagai striker. “Pertama kali main bola aku jadi striker soalnya aku nendangnya kidal,” ujarnya.

Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat remaja kelahiran Surabaya, 19 Desember 2001 itu memang pantas menjadi kiper. Tugasnya sebagai pertahanan terakhir timnya tentu membutuhkan fisik dan stamina yang kuat, ditunjang dengan postur yang memadai. Itulah yang membuat pelatihnya mempercayakan posisi kunci itu kepada Irsan.

Perjalanan Irsan dalam olahraga terpopuler sejagat itu terus berlanjut. Dia pun hijrah ke klub lain. Di klub Banteng Muda Malang itulah permainan Irsan makin bersinar. Dia bersama timnya melaju ke Manchester United Premier Cup (MUPC) tingkat Asean di Thailand tahun 2015 lalu. Di ajang kompetisi talenta sepak bola muda itu, Irsan dan timnya berhasil merebut juara 3.

Kesuksesan meraih gelar juara dalam kompetisi itu tak lepas dari perjuangan Irsan menjaga gawangnya. Sempat kebobolan di babak pertama melawan Singapura dalam pertandingan perebutan posisi ketiga, Irsan berusaha keras mengawal gawangnya.  Lantaran penyelamatan yang ia lakukan dan kekompakan tim yang terjalin dengan baik, timnya mampu membalik keadaan dan menjadi Juara 3. “Walaupun tertinggal tim kita bisa membalik skor 3-1,” ujarnya bangga.

Di balik cerita suksesnya itu, Irsan ternyata harus banyak berkorban waktu dan tenaga untuk terus berlatih dan membesut bakatnya. Dia bercerita, pernah dimarahi orang tuanya gara – gara memecahkan keramik saat berlatih di rumah. “Biasanya liat televisi sambil lempar tangkap bola gitu, malah mecahin keramik,”jelasnya.

Tapi itu semua tak membuat Irsan patah semangat. Dia terus berlatih dengan giat. Fans berat Kurnia Mega  dan Manuel Neuer itu juga harus tetap menjaga stamina tubuh agar tetap fit. “Kalau tidur ya tidak terlalu malam, nanti kondisi badan malah menurun,” tuturnya.

Irsan memang sudah memantapkan diri meniti jalan profesional sepak bola. Sejumlah pencapaian prestasi juga sudah diraihnya. Tapi baginya, hal itu belum cukup. Dia bertekad untuk terus meningkatkan dan mengembangkat prestasinya itu. Apalagi impian terbesarnya adalah menjadi pemain terbaik sehingga bisa membanggakan keluarganya. “Bersyukur sudah bisa merasakan bermain dengan tim luar negeri. Tapi rasanya belum puas, harus bisa ditingkatkan lagi. Pengennya jadi pemain terbaik pas mama, kakak, dan adik melihat,” pungkasnya.(c8)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Follow Untuk Berita Up to Date