Dari Bambu, untuk Tingkatkan Perekonomian Warga Hingga Jelajah Mancanegara

Share this :

Bandung, koranmemo.com – Siapa yang tak kenal dengan tanaman bambu. Di Indonesia terdapat 60 jenis tanaman bambu yang tumbuh baik di dataran rendah maupun  dataran tinggi. Bambu pada umumnya tumbuh di tempat-tempat terbuka dan daerah yang terbebas dari genangan air.

Wawan Dandawan Margadipraja, BA, M.Ed konsultan bambu dan alat musik bambu Dusun Bambu di Lembang Bandung Jawa Barat saat bertindak sebagai narasumber kepada rombongan dari PT Gudang Garam dan Jurnalis Kediri, Sabtu (2/11) mengatakan bambu tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan dan kehidupan.

Namun laki-laki yang biasa dipanggil Abah Wawan ini mengungkapkan, bambu juga bisa dijadikan sebagai alat musik yang sangat menarik. Menurut Abah Wawan yang juga sebagai pengurus di Yayasan Bambu Indonesia devisi musik ini berkat bambu pula bisa keliling ke luar negeri. “Alat musik ini dibuat dari bambu yang tidak perlu membutuhkan bahan baku yang banyak. Tapi setelah menjadi alat musik harganya bisa sangat mahal,” katanya.

Kepala Bagian Humas PT Gudang Garam Tbk Iwhan Tricahyono menjelaskan studi banding ini selain bertujuan untuk melestarikan lingkungan juga untuk meningkatkan perekonomian warga.

“Bambu juga merupakan tanaman konservasi dengan kemampuannya menjaga ekosistem air. Sistem perakaran bambu yang sangat rapat dan menyebar ke segala arah mampu menahan tanah dari erosi,” jelas Iwhan Tricahyono.

Selain pelestarian lingkungan, program CSR PT Gudang Garam Tbk juga berupaya membangun pertumbuhan ekonomi kreatif kerajinan bambu masyarakat lereng Gunung Wilis. Memanfaatkan tanaman bambu yang ada, masyarakat diberi keterampilan memproduksi kerajinan bambu hingga berdaya jual tinggi.

Program CSR PT Gudang Garam Tbk berkomitmen mengembangkan industri  bambu, yang saat ini sudah dilakukan di Lereng Gunung Wilis. Mereka bekerja sebagai perajin bambu itu tersebar di Kecamatan Mojo, Tarokan, dan Banyakan, dengan jumlah perajin sebanyak 31 orang. Terdiri atas Desa Sukoanyar, Kecamatan Mojo (5 perajin), Desa Ngadi, Kecamatan Mojo (3 perajin), Desa Blimbing, Kecamatan Tarokan (18 perajin), dan Desa Mayaran, Kecamatan Banyakan (5 perajin).

Hingga saat ini para perajin tersebut masih menjalankan usaha secara konvensional. Produk mereka masih berupa cagak bangunan, gedek (sesek), tusuk sate, tompo, cikrak, dan kurungan ayam. Itupun diproduksi dalam jumlah terbatas karena keterbatasan biaya serta pemasaran. Kondisi ini berbanding terbalik dengan ketersediaan bahan baku bambu yang cukup melimpah.

Selain kerajinan bambu di sana, program CSR ini sekaligus merawat kelestarian alam. Untuk itu dibutuhkan peran semua pihak, termasuk media massa dalam memberikan ruang informasi terhadap upaya ini. Melalui Media Gathering 2019,  wartawan diajak berkunjung ke Dusun Bambu dan Saung Angklung Udjo, untuk menyaksikan secara langsung pengelolaan ekowisata berbasis pelestarian lingkungan yang memberi nilai ekonomi masyarakat.

Dusun Bambu adalah ekowanawisata pertama yang berada di Jalan Kolonel Masturi KM 11 Cisarua, Bandung Barat. Dengan ketinggain 1.500 mdpl, Dusun Bambu menyajikan lanskap menarik dengan udara dingin tapi sejuk, khas lingkungan di kaki pegunungan.

Dusun Bambu dibangun dari keprihatinan terhadap sebuah lahan di Bandung Barat yang tak diperhatikan oleh petani setelah panen. Pada tahun 2008, beberapa pengusaha memiliki ide mengembalikan lahan yang memprihatikan tersebut untuk diperbaiki. Salah satunya dengan menjadikan lahan konservasi bambu.

Proses pengembalian lahan seluas 15 hektar agar hijau kembali ternyata tak mudah. Diperlukan sedikitnya 100.000 bibit tanaman bambu untuk menciptakan surga alam yang bisa dinikmati semua orang.

Usaha penghijauan Dusun Bambu memakan waktu lama, dari tahun 2008 hingga tahun 2011. Setelah vegetasi alam Dusun Bambu mulai pulih, dibangunlah beberapa bangunan dengan konsep hijau (green). Arsitektur harus berpikir keras untuk membangun sebuah bangunan yang dapat menyatu dengan alam, namun tetap memiliki nilai estetika tinggi. Hingga pada 16 Januari 2014, Dusun Bambu mampu bermetamorfosa menjadi ekowanawisata pertama di Jawa Barat dengan misi 6-E (Edukasi, Ekonomi, Etnologi, Etika, Estetika dan Entertainment).

Editor Achmad Saichu