Cerita Petugas Pengantar Jenazah Korban Covid-19

Share this :

Tidak Pulang Saat Lebaran, Bertemu Anak Istri Dibatasi Kaca

Nganjuk, koranmemo.com – Pandemi Covid-19 membuat masyarakat menjadi waspada dan mudah curiga, terutama kepada mereka yang rentan tertular si virus berbahaya.   Petugas medis menjadi salah satu profesi yang paling beresiko, maka tidak heran keluarga pun tidak diizinkan untuk bersua.  Kendati demikian, bukannya mundur, mereka justru semakin tak gentar melawan virus demi kemanusiaan.  Salah satunya adalah Amir (bukan nama sebenarnya), seorang pria yang diberi amanat untuk menjadi pengantar jenazah korban Covid-19.

Sebelum diberi amanat menjadi pengantar jenazah Covid-19, Amir bekerja sebagai tenaga medis di salah satu rumah sakit di Kabupaten Nganjuk. Saat pandemi mulai meluas dan ada korban meninggal dunia, saat salah seorang petugas Gugus Depan Percepatan Penanganan Covid-19 setempat menawarkan posisi menjadi petugas untuk memakamkan jenazah Covid-19.

“Saat itu saya tidak langsung bilang ‘iya’, karena saya paham ini resikonya besar.  Tapi bukan berarti saya menolak.  Saya bilang ke keluarga saya dulu, mencari pendapat dari berbagai elemen kesehatan, terutama ilmu tentang Covid-19,” ujarnya.

Dia sadar, jika dia menerima pekerjaan tersebut, berarti dia harus bertanggung jawab penuh terhadap profesi barunya yang anti mainstream tersebut.  Dia juga tahu bagaimana reaksi keluarga dan masyarakat sekitarnya jika tahu dia adalah pengantar jenazah korban Covid-19.

“Kemungkinan bakal dikucilkan ada. Wajar, karena orang-orang kan juga takut tertular. Hal ini juga sempat membuat saya ragu. Sebenarnya saya ingin menolong, tapi kan saya hanya manusia biasa yang juga punya rasa takut,” katanya.

Baca Juga: Bantuan Laptop Pinjam Pakai Mulai Dibagikan ke Siswa SD dan SMP

Namun pada akhirnya, setelah keluarga kecilnya memberikan restu, Amir pun memutuskan untuk menerima tawaran tersebut.  Dengan tekad untuk membantu demi kemanusiaan, Amir masuk ke dalam barisan penanganan korban Covid-19.