Catut Nama Kapolres Blitar Kota, Minta Uang Pelepasan Police Line

Blitar, koranmemo.com – SMA YP Kotamadya yang berada di jalan Tanjung Kota Blitar, terbakar Jumat (29/09) lalu. Kejadian tersebut justru dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan Kapolres Blitar Kota, AKBP Heru Agung Nugroho untuk keuntungan pribadi.

Kepala SMA YP Kotamadya Kota Blitar, Umi Subarkah mengatakan, dirinya ditelpon orang tidak dikenal dengan mencatut nama Kapolres Blitar Kota, AKBP Heru Agung Nugroho. Pelaku meminta sejumlah uang untuk biaya pelepasan garis polisi di sekolah yang terbakar beberapa hari lalu.

“Saya sempat dapat telepon dari seseoang yang mengaku Kapolres. Dia meminta uang untuk biaya pelepasan garis polisi, tapi saya abaikan,” kata Umi Subarkah, Rabu (4/10).

Lebih lanjut Umi Subarkah menjelaskan, dia sudah curiga penelepon yang mengaku Kapolres dan meminta sejumlah uang tersebut adalah modus penipuan.

Untuk itu, dia segera mengkonfirmasi masalah itu ke Polsek Sukorejo. Namun Umi tidak mau menjelaskan secara detail berapa nilai uang yang diminta pelaku. “Setelah saya konfirmasi ke Polsek, biaya untuk pelepasan garis polisi tersebut tidak ada,” jelas Umi Subarkah.

Informasi yang diperoleh menyebutkan pelaku meminta uang sebesar Rp 2 juta ke kepala sekolah. Pelaku mengaku sejumlah uang itu untuk biaya pelepasan garis polisi yang dipasang di sejumlah ruang di sekolah yang terbakar beberapa hari lalu.

Umi mengatakan, pihak sekolah memang berharap garis polisi segera dilepas. Pihak sekolah berencana segera membersihkan ruang yang terbakar. Sekolah sudah menerima peristiwa itu sebagai musibah.

Sekolah juga tidak meminta polisi mendatangkan tim laboratorium forensik untuk olah tempat kejadian perkara di lokasi. Sebab, bangunan sekolah itu tidak diasuransikan.

“Kami menganggap peristiwa ini sebagai musibah. Kami sudah menerimanya. Kami hanya ingin garis polisi segera dilepas agar ruang yang terbakar bisa segera dibersihkan dan dibangun ulang,” katanya.

Kasat Reskrim Polres Blitar Kota, AKP Heri Sugiono memastikan penelepon yang meminta sejumlah uang ke sekolah itu modus penipuan. Sebab, tidak ada biaya untuk pemasangan maupun pelepasan garis polisi. Polisi memasang garis polisi di lokasi untuk kebutuhan penyelidikan. Kalau penyelidikan sudah selesai, polisi akan melepas garis polisi itu.

“Untuk itu, kami mengimbau masyarakat agar waspada dengan modus penipuan seperti itu. Jangan percaya kalau ada penelepon yang mengaku Kapolres atau pejabat Polres lain yang meminta uang untuk biaya pelepasan garis polisi. Itu tidak ada biayanya,” kata Heri.

Dikatakan, polisi sudah berencana melepas garis polisi di sekolah itu. Polisi sudah melakukan olah TKP di ruang yang terbakar. Polisi tidak akan mendatangkan tim laboratorium forensik karena pihak sekolah tidak memerlukan. Apalagi bangunan sekolah itu juga tidak diasuransikan. “Dua atau tiga hari lagi garis polisinya akan kami lepas. Kami minta sekolah melaporkan kasus penipuan itu, kami akan menindaklanjutinya,” ujarnya.

Sejumlah ruang kelas di SMA YP Kotamadya, di Jl Tanjung, Kota Blitar, terbakar, Jumat (29/9) lalu. Sebanyak tujuh ruang di sekolah itu ludes dilalap si jago merah. Tujuh ruang yang terbakar, yakni, rumah penjaga, gudang, kelas kosong, laboratorium IPS, ruang mengetik, laboratorium komputer, dan laboratorium fisika. Peristiwa itu membuat sekolah mengalami kerugian mencapai Rp 100 juta.

Reporter: Arief Juli Prabowo

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.