Catatan dari KBRI di Malaysia, Pernah Mengurus Orang Indonesia yang Kena Hipnotis Sampai Amnesia

Della Cahaya Praditasari – Kuala Lumpur, Setiap tempat memiliki ceritanya sendiri. Termasuk Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Sebuah tempat dimana para Warna Negara Indonesia (WNI) yang kehilangan passport-nya ketika sedang berlibur ke negara orang mengadu. Di KBRI ini ada segudang cerita dan pengalaman dari para petugasnya ketika melayani orang-orang yang kehilangan passport. Ada yang lucu dan ada pula yang membuat para petugas di sana meneteskan air mata. Berikut adalah salah satu cerita dari Kantor KBRI yang berada di negara tetangga, Malaysia.

===

Kantor KBRI Malaysia terletak di Jalan Tun Razak, Kuala Lumpur. Berbeda dari kantor-kantor lainnya, kantor KBRI Malaysia ini termasuk yang sulit diakses dengan MRT maupun LRT. Jika tidak memiliki kendaraan pribadi, untuk mencapai tempat ini dengan cepat, lebih baik menggunakan taksi biasa atau taksi online.

Kantor KBRI Malaysia buka mulai pukul 09.00 WPM (Waktu Piawai Malaysia) hingga 17.00 WPM. Semua petugasnya adalah orang Indonesia. Maka dari itu, jam kerja KBRI pun juga menyesuaikan dengan mayoritas karyawan di Indonesia bekerja, yakni pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Ketika sampai di depan kantor KBRI, yang terlihat bukanlah gedung mewah dikelilingi pagar menjulang dengan gerbang besar sebagai tempat masuknya. Pintu masuk kantor ini sangat sederhana. Hanya lorong yang di depannya berdiri dua satpam yang mengecek nomor antrean.

Jika baru pertama kali datang ke situ dan meminta nomor antrean, pasti akan langsung ditolak oleh satpamnya. Kenapa? Karena nomor antrean sudah habis. Ternyata, nomor antrean tersebut sudah dibagikan sejak pukul 01.00 WPM. Dalam sehari, KBRI di Malaysia hanya membagikan 150 – 200 nomor antrean saja. Jika tidak kebagian, silakan kembali keesokan harinya.

Tapi tenang saja. Ada pengecualian untuk para WNI yang berstatus turis yang kehilangan passport-nya. Satpam akan langsung mengarahkan mereka menuju ke loket nomor 21. Di loket ini lah para turis yang kehilangan passport-nya akan dilayani. Sementara loket lain yang menggunakan nomor antrean adalah para WNI yang memang menetap di Malaysia untuk berbagai kepentingan, seperti bekerja dan belajar.

Ternyata, dalam sehari cukup banyak juga WNI berstatus turis yang kehilangan passport-nya. Alasannya bermacam-macam. Ada yang dompetnya ketinggalan di MRT, ada yang kecopetan, dan ada pula yang dia tidak ingat bagaimana hilangnya. Untung saja, petugas loket nomor 21 ini cukup sabar melayani para WNI tersebut. Dia akan memberitahu apa saja yang dibutuhkan dan apa saja yang harus dicetak oleh mereka.

Tidak perlu bingung mencari tempat untuk mencetak berkas yang diperlukan, karena di sebelah kantor KBRI sudah ada tempat percetakan. Para WNI tinggal mengirim berkas yang dicetak lewat whatsapp, dan 5 menit kemudian, semua berkas sudah siap untuk diserahkan.

Itu jika berkasnya sudah lengkap. Bagaimana yang belum lengkap? Salah satu petugas KBRI di Malaysia, Fanani, menceritakan satu pengalaman yang tidak bisa dia lupakan selama mengurus WNI yang kehilangan passport-nya. Bahkan bukan hanya passport, dia lupa dengan identitas dirinya sendiri.

Ceritanya, di tahun 2015 lalu, ada seorang warga Indonesia yang tinggal di Malaysia datang melapor ke kantor KBRI. Dia mengatakan, dia menemukan seorang pria berlogat Jawa kental tengah meracau di depan sebuah toko. Penampilannya lusuh dan seperti orang yang tidak waras. Warga tersebut kemudian membawa pria itu ke rumahnya, lalu melapor ke KBRI.

Petugas KBRI kemudian meminta orang Indonesia itu untuk membawa si pria ke kantor KBRI. Kantor KBRI juga memiliki barak penampungan untuk tempat tinggal sementara para WNI yang masih belum bisa kembali ke Indonesia. “Di barak penampungan itu ceritanya lebih macam-macam lagi. Ada yang kabur dari majikannya, ada yang kabur dari pacarnya, ada yang dihamili majikannya terus tidak berani pulang ke Indonesia. Dan ada pula orang yang passport-nya hilang dan kehabisan uang,” kata Fanani.

Singkatnya, si pria berlogat Jawa itu kemudian tinggal di barak penampungan sampai petugas bisa membawanya kembali ke Indonesia. Para petugas, termasuk Fanani menduga, si pria itu kena gendam. Semua barang bawaannya diambil, termasuk passport dan KTP miliknya. Untung saja, satu identitas yang tidak bisa diambil adalah sidik jari si pria. Dari situ diketahui jika si pria itu adalah warga Bantul. Dari catatan masuk ke Bandara KLIA, si pria sudah masuk ke Malaysia selama hampir dua bulan.

“Kami langsung kaget kan? Ternyata sudah lama dan baru ketahuan. Tidak ada keluarga yang mencari juga. Tapi kami juga maklum, dengan kondisi dia yang seperti itu, linglung dan seperti orang gila, mungkin dia juga tidak paham harus bertindak seperti apa setelah kehilangan harta bendanya,” ujar Fanani.

Setelah mendapatkan identitas dan mengurus semua berkas untuk mengembalikan si pria Bantul, akhirnya tiba juga hari dimana Fanani dan satu petugas lainnya mengantarkan si pria Bantul pulang. Awalnya Fanani berniat untuk memasangkan borgol agar si pria Bantul itu tidak berbuat aneh-aneh ketika di pesawat. Akan tetapi setelah dipikir-pikir, dia tidak tega jika memakaikan borgol padahal pria Bantul itu bukan penjahat.

“Akhirnya kami bertiga berangkat dengan perasaan sedikit was-was, tapi tetap yakin kalau semuanya akan baik-baik saja. Toh cuma 2 jam perjalanan ini,” kenangnya.

Ketika sudah duduk di pesawat dan hendak mematikan ponselnya, ada telepon masuk dari psikiater yang merawat si pria Bantul, mengabarkan kalau dia lupa tidak memberikan obat penenang. Dia meminta kepada Fanani untuk menjaga si pria Bantul baik-baik, dan jangan sampai berkeliaran di dalam pesawat.

Fanani dan petugas satunya kemudian duduk dengan mengapit si pria Bantul. Untung saja, sia pria Bantul itu sangat tenang. Bahkan saat pesawat lepas landas, si pria Bantul hanya diam saja. Tentu saja hal ini membuat Fanani dan rekannya lega.

Sampai akhirnya, ketika pesawat kira-kira sudah memasuki perairan Indonesia, si pria Bantul mendadak tersentak dan hendak berdiri. Spontan Fanani menahan si pria Bantul itu sambil sedikit menghardik agar dia tenang.

Follow Untuk Berita Up to Date