Buruh PG Mrican Mulai ‘Melawan’

IMG_1154*Jawab Tantangan Manajemen Pabrik Dengan Mogok Kerja
Kediri, Memo
Setelah sempat menghadapi gelombang protes dan penolakan dari warga Bakalan Kecamatan Banyakan terkait penampungan limbah yang dianggap mengganggu, manajemen Pabrik Gula (PG) Mrican harus menghadapi perlawanan baru. Kali ini perlawanan justru berasal dari para  buruhnya yang melakukan mogok kerja pada Jumat (4/7) kemarin.
Aksi ratusan buruh tersebut merupakan bentuk jawaban terhadap manajemen PG Mrican yang pernya taannya dinilai sangat arogan saat proses mediasi  yang dilakukan Kamis (3/7) lalu.
Pergolakan para buruh terserbut dipicu perma salahan kontrak Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang mengakibatkan pendapatan mereka  berkurang separoh dari pendapatan mereka selama puluhan tahun menjadi karyawan kampanye di pabrik gula plat merah tersebut.
Salah satu sumber Memo menyatakan aksi perlawanan massal buruh kali ini dipicu oleh pernyataan pihak administrator yang dinilai sangat arogan dan
melecehkan pengabdian mereka selama berpuluhpuluh tahun di perusahaan tersebut. “Memang dalam pertemuan Kamis (3/7) lalu, General Manager PG Mrican menyatakan dengan tegas bahwa siapa yang tidak terima dengan kontrak PKWT tersebut dipersilakan mengundurkan diri., sehingga emosi para buruh terbakar dan puncaknya hari ini. Semua sepakat untuk mogok kerja,” terang sumber Memo, saat ditemui di lokasi aksi, Kamis (4/7).
Menurutnya, aksi perlawanan ratusan buruh ini akan terus dilakukan hingga pihak manajemen bersedia menemui dan menyetujui permintaan  mereka. Untuk mengembalikan standar upah seperti yang sebelumnya. “Dengan kontrak PKWT ini kami jelas dirugikan. Pasalnya upah yang kami terima tinggal separo, setelah kontrak itu disepakati. Sebelumnya upah kami bisa mencapai minimal Rp 2.200.000 sesuai dengan upah minimum regional Jatim yang diterapkan PTPN X selama ini. tapi sekarang harus mengikuti upah minimum Kota Kediri yang besarnya hanya Rp 1.165.000, “ kata salah satu buruh PG Mrican. Aksi sempat memanas ketika General Manager PG. Meritjan DD Poerwantono tidak bersedia menemui para buruh yang menunggu jawaban atas tuntutannya. “Kami tidak mau diminta perwakilan untuk  menemui GM. Atau hanya BURUH perwakilan yang menemui kamidisini. Kami minta Poerwantono sendiri yang menemui kami, ” tandas salah satu orator aksi buruh.
Keresahan yang dialami para buruh pabrik gula warisan Belanda tersebut bermula ketika mereka harus menandatangai kontrak PKWT di bawah  tekanan dan para buruh juga mengaku tidak membaca dengan seksama isi perjanjian yang mereka tanda tangani. “Kalau yang lalulalu, pihak pabrik itu kalau ngasih perjanjian kami diberi waktu 2 hari untuk mempelajarinya. Tapi kemarin saat tanda tangan kontrak itu kami hanya diberi waktu singkat sekitar 2 menit dan ada tekanan sehingga kami semua tanda tangan. Juni 2014 lalu. Dan perjanjian tersebut berakhir bulan November 2014  mendatang,” ungkap sumber Memo.
Pantauan Memo, sejak pagi ratusan buruh sudah berkumpul di depan kantor PG Mrican. Ratusan buruh memenuhi jalan dan terus meneriakkan protes pada pihak PG Mrican yang dianggap hanya menjadikan mereka sapi perahan dan tidak menghargai engabdiannya selama ini.
Mereka juga mengecam arogansi menejemen, khususnya GM PG Mrican yang melontarkan pernyataan menyakitkan buruh saat mediasi. Mereka terus mendesak GM untuk menemui buruh secara langsung untuk menuntaskan masalah tersebut.
Sementara itu, GM PG Mrican DD Poerwantono hingga siang hari tidak tampak. Begitu pula saat hendak dikonfirmasi para wartawan terkait aksi mogok massal buruh, yang bersangkutan tidak dapat ditemui.(can)
Follow Untuk Berita Up to Date