Bupati Ngunduh Mantu, Cara Lain Trenggalek Penuhi Hak-hak Masyarakat

Share this :

Trenggalek, koranmemo.com – Kabupaten Trenggalek punya gawe besar di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Minggu (8/3). Mochamad Nur Arifin, Bupati Trenggalek ngunduh mantu. Prosesi adat Jawa Trenggalekan itu diikuti sebanyak 258 pasangan suami istri (pasutri). Kegiatan ini menjadi cara lain Trenggalek untuk memenuhi hak-hak masyarakat.

Hak-hak masyarakat itu diantaranya adalah memperoleh jaminan sosial dan perlindungan. Sebab ratusan pasangan suami istri itu belum memiliki dokumen pernikahan meskipun telah menjalani bahtera rumah tangga bertahun-tahun. “Hakikatnya kegiatan ini memberikan pelayanan kepada mereka yang sudah menikah tetapi belum tercatat sama sekali di catatan pernikahan,” kata Mas Ipin.

Ratusan pasutri itu tidak menikah siri. Mereka menikah secara sah. Hanya saja saat pernikahan terjadi kealpaan oleh petugas sehingga mereka belum tercatat dan tidak memiliki buku pernikahan. Dengan isbat nikah, mereka bakal mempunyai hak dasar kependudukan, mulai dari kartu keluarga, akta kelahiran hingga buku nikah. “Mulai hari ini mereka punya hak dasar kependudukan,” pungkasnya.

Kegiatan ini sudah tiga kalinya dihelat. Tahun 2018 terdapat sebanyak 50 pasutri yang diisbatkan dan tahun 2019 ada 128 pasutri. Tahun 2020 mengalami peningkatan hingga 260 pasutri, dua diantaranya masih berproses karena terkendala beberapa hal. “Jadi bukan karena nikah siri, tapi pernikahan yang tidak tercatat. Kelalaian saat itu,” kata Ketua Pengadilan Agama Trenggalek, Nur Chozin.

Secara hukum mereka mudah menegaskan rukun nikah, mulai dari saksi hingga mahar. Bahkan secara persis mereka bisa menunjukkan kapan waktu nikahnya sehingga proses isbat tidak menuai kendala. Hanya saja, dua pasutri yang gagal itu, satu diantaranya harus memenuhi keberadaan saksi. “Satunya gagal karena sedang berada di Kalimantan,” kata Chozin.

Kasus seperti ini banyak ditemui di Kecamatan Dongko. Rentang usia pernikahannya antara tahun 1970 hingga 1980. Mayoritas usia yang mengikuti bupati ngunduh mantu diatas 50 tahun. Pasangan tertua usia 75 tahun dan pasangan termuda berusia 57 tahun. “Senang anaknya jadi punya akta. Bisa gampang mengurus sekolah dan juga pernikahannya nanti,” kata salah satu peserta, Mukayat. (adv/Kominfo Trenggalek)

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu