Buka Road to FESyar, Wakil Wali Kota Kediri: Permintaan Produk dan Jasa Halal Terus Meningkat

Share this :

Kediri, koranmemo.com – Wakil Wali Kota Kediri, Lilik Muhibah membuka Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2019 Sabtu (26/10). Acara yang diselenggarakan dengan tujuan untuk mendukung pengembangan ekonomi syariah ini, bertempat di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri.

Lilik Muhibah dalam sambutannya mengatakan acara ini sebagai sarana sosialisasi dan edukasi sektor ekonomi islami untuk masyarakat Kota Kediri dan juga terutama bagi para pelaku UMKM di Kota Kediri. Berbicara industri halal, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara dengan produk halal terbesar di dunia. Permintaan akan produk dan jasa halal terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk beragama muslim setiap tahunnya. Permintaan akan produk halal tidak hanya datang dari kalangan muslim tetapi juga kalangan non muslim, ini tentu sebuah peluang dan sekaligus tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha.

“Untuk itu, saya rasa sangat tepat bila ini dimulai dari _talkshow_ industri halal pada hari ini. Mudah-mudahan acara ini dapat membawa gebrakan baru dan pergerakan ekonomi islam yang positif di Indonesia khususnya di Kota Kediri ini,” ujar Ning Lik.

Lebih lanjut Lilik Muhibbah menjelaskan tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Kediri. Akhir-akhir ini UMKM Kota Kediri terus berkembang, terlihat dari pemasarannya sudah skala nasional dan internasional. Selain itu, juga banyak bermunculan wirausahawan baru di Kota Kediri. Untuk itu para wirausaha baru ini harus terus melakukan inovasi terhadap produknya agar bernilai jual tinggi disamping itu juga harus bisa mengusai pasar nasional dan internasional dengan baik serta bisa memanfaatkan _marketplace_ yang ada saat ini.

Di kesempatan yang sama, Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri Rizal Mulyana mengatakan bahwa kenapa bank sentral mengadakan festival ekonomi syariah, karena sebagaimana diketahui bahwa tujuan Bank Indonesia adalah mencapai kestabilan nilai rupiah. Tugas untuk mencapai tujuan tersebut yaitu mengatur kebijakan moneter, mengatur sistem pembayaran dan yang terakhir stabilitas sistem keuangan. Ternyata mengatur kebijakan moneter di Indonesia susah-susah gampang karena negara Indonesia masih negara berkembang. Efektivitas moneter ini bisa terwujud bila ekonominya sudah mapan. Berbicara tentang ekonomi, Bank Indonesia hadir membantu pemerintah, eksekutif dan UMKM salah satunya juga dalam hal ekonomi syariah. Bank Indonesia menilai bahwa ekonomi syariah kalau terus dijaga bisa mendorong menjadi pondasi tangguh di perekonomian nasional. Untuk itu secara rutin BI sejak 2014 sudah menyelenggarakan _Indonesia Sharia Economic Festival_ (ISEF) di Surabaya dan antusias pelaku ekonomi syariah nasional maupun internasional semakin tahun makin bertambah.

“Sehingga di tahun 2019 ini ISEF yang biasa diselenggarakan di Surabaya jadi diselenggarakan di Jakarta, dan pasti dihadiri oleh Presiden. Nah kalau berbicara tentang syariah fair atau Festival Syariah (FESyar) masih di Surabaya tanggal 6-9 November dan acara ini diisi dengan pameran UMKM dan lembaga pesantren binaan BI, lomba _entrepreneur_ muda syariah, serta kesenian daerah berbasis islami,”ujar Rizal.

Deputi Kepala KpwBI Kediri juga menuturkan maksud dari ISEF merupakan implementasi pilar ketiga dari industri pengembangan ekonomi syariah BI yang dimulai dari penguatan riset dan edukasi. Terkait dengan edukasi itu makanya ISEF selalu digelar di setiap tahunnya. Untuk mencapai ISEF tanggal 12-17 November, sebelumnya digelar FESyar di 3 kawasan yaitu kawasan Sumatra, kawasan timur Indonesia dan regional Jawa di Surabaya. Untuk mendukung FESyar di Surabaya BI Kediri menggelar road to festival syariah dengan tujuan mensosialisasikan kegiatan festival ekonomi syariah dan mendorong serta menggali itokoh-tokoh inspiratif dari wilayah Karisedenan Kediri dan Madiun terutama pada generasi mudanya.

Turut hadir dalam acara ini Forkopimda Kota Kediri, perwakilan OJK, Ketua DPD LDII Kota Kediri Usman Arif, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo dan Al Falah, Narasumber dari perwakilan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia Cecep Maskanul Hakim dan Sekretaris Umum Dewan Pimpinan MUI Jatim Ainul Yaqin, perwakilan universitas di Kota Kediri dan perbankan syariah di Kota Kediri.(adv)

Editor Achmad Saichu