Blandong Kayu Perhutani Trenggalek Diringkus, Tiga Lainnya Buron

Share this :

Trenggalek, koranmemo.com – Kepolisian Resort Trenggalek meringkus seorang blandong kayu milik Perhutani Trenggalek. Selain mengamankan seorang pembalak, petugas masih memburu tiga tersangka yang kini ditetapkan sebagai daftar pencarian orang (DPO). Diketahui mereka merupakan jaringan pembalak profesional dan disinyalir kerap beraksi.

Pelaku yang diamankan yakni Panut (31) warga Kecamatan Kampak Kabupaten Trenggalek. Diketahui ia berperan sebagai sopir yang mengangkut kayu hasil curian. Sementara tiga tersangka lainnya berperan sebagai pemotong, pengangkut hingga pengepul. “Mereka mempunyai peran yang berbeda,” kata Kapolres Trenggalek, AKBP Jean Calvijn Simanjuntak saat meninjau lokasi pembalakan, Selasa (24/12).

Menurut keterangan pelaku, lanjut Jean, pembalakan liar itu dikoordinir tersangka berinisial SR, dibantu tersangka lainnya yakni DN dan TN. Mereka menyasar sejumlah kayu pinus milik Perhutani di wilayah Desa Ngerdani dan sekitar Desa Salamwates Kecamatan Dongko. “Di sini (lokasi yang ditinjau) menjadi salah satu titik (pengumpulan kayu), untuk kemudian dibawa ke suatu tempat,” jelasnya.

Jaringan pembalak liar yang beroperasi di wilayah Kecamatan Dongko tersebut diketahui kerap berulah. Dalam penyergapan yang dilakukan, petugas mengamankan 91 potong kayu pinus lengkap dengan perlengkapan untuk membalak. “Di lokasi ini lima kali beraksi, kami masih kembangkan (diduga di lokasi lain),” imbuhnya.

Selain kerugian materil, lanjut Jean, dampak akibat pembalakan tersebut dinilai fatal. Pasalnya ulah komplotan pembalak itu dinilai merusak lingkungan. Terlebih lokasi tersebut rawan terjadi tanah longsor. Apalagi saat ini memasuki peralihan musim. “Selain materil, dampak ekosistemnya, menyebabkan longsor. Kami tegaskan pelaku untuk menyerahkan diri,” pungkasnya.

Wakil Administratur, Kepala Sub Kesatuan Pemangkuan Hutan (KSKPH) Perum Perhutani wilayah Kediri Selatan, Andy Iswindarto mengatakan, kerugian akibat pembalakan tersebut ditaksir senilai Rp 17 juta. Pohon yang dicuri merupakan pohon yang masih produktif dilakukan penyadapan getah karet oleh masyarakat sekitar. “Dimanfaatkan masyarakat untuk sadapnya (karet),” katanya.

Pohon yang ditebang mayoritas berdiameter 30 centimeter hingga 40 centimeter. Pohon yang dijarah masuk wilayah RPH Sumber Bening BKPH Dongko atau secara administratif masuk wilayah Desa Ngerdani dan berbatasan dengan Desa Salamwates. “Ini menjadi salah satu lokasi rawan potensi ilegal logging. Kedepannya, kami akan tingkatkan intensitas patroli bersama pihak terkait,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetiya
Editor Achmad Saichu