Bisa Kantongi Rp 1 Juta per Hari

Aksi “Polisi Cepek” Saat Mudik Lebaran

Jombang, Memo – Kepadatan arus mudik lebaran 2016 di jalur nasional yang menghubungkan Surabaya – Madiun ternyata dimanfaatkan oleh “polisi cepek” atau orang yang membantu menyeberangkan kendaraan yang hendak berputar balik di beberapa titik jalur penyeberangan di Jombang. Padatnya kendaraan pada musim mudik, menjadi berkah tersendiri bagi mereka.

Beberapa "polisi cepek" sedang menyeberangkan kendaraan (agung/memo)
Beberapa “polisi cepek” sedang menyeberangkan kendaraan (agung/memo)

Siapa sangka,. kepadatan arus lalu lintas membuat penghasilan mereka tembus mencapai Rp 1 juta per hari. Penghasilan itu merupakan hasil pemberian sukarela pengendara yang hendak menyeberang maupun akan putar balik. “Jika arus sedang ramai dan banyak pengendara yang hendak putar balik atau menyebrang pendapatannya bisa mencapai Rp 1 juta per hari,” ujar Samsul Bahri (23) pemuda asal Desa Dukuhdimoro Kecamatan Mojoagung, Minggu (10/7).

Masih menurut Samsul, pendapatan tersebut dikumpulkan secara kolektif oleh kelompoknya yang nantinya akan dibagi rata setiap orang dikurangi jumlah pengeluaran untuk makan dan minum setiap harinya. “Masing-masing orang bisa mendapatkan Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu dalam setiap harinya,” imbuh pemuda yang biasa menyeberangkan kendaraan di pintu keluar ringroad Mojoagung ini.

Hal senada juga diutarakan Fandi Amrullah (16). Dirinya mengaku sengaja menjadi “polisi cepek” untuk mengisi waktu liburan sekolah dan hasilnya bisa digunakan untuk membatu orang tuanya. “Lumayan, saat sekolah nanti uang saku tidak minta orang tua, jadi bisa sedikit meringankan beban orang tua,” ujar pelajar di salah satu sekolah yang ada di Kecamatan Mojoagung ini.

Sementara Nurul Hidayat (31), warga Kecamatan Tarik Kabupaten Sidoarjo yang mudik ke Jombang, mengaku terbantu dengan adanya “polisi cepek”. Sebab, saat jalur padat sangat sulit menyeberang tanpa bantuan mereka. “Lumayan terbantu dengan jasa mereka (polisi cepek). Lagian ngasihnya uang juga seikhlas kita. Bisa Rp 1.000 atau Rp 2.000. Mereka juga tidak memaksa harus diberi,” aku Nurul. (ag)

 

Follow Untuk Berita Up to Date