[Nominasi 5 lomba menulis online] BI Genjot Sosialisasi Rupiah ke Generasi Muda

Kediri, koranmemo.com – Bank Indonesia kian gencar melakukan sosialisasi tentang mata uang rupiah. Pada hari ini, Kamis, 22 Agustus 2019, sosialisasi pun diselenggarakan bersama dengan acara workshop dan lomba menulis untuk remaja yang digagas oleh koranmemo.com.

Tercatat, sebanyak 98 SMA/SMK/MA Sederajat Kota dan Kabupaten Kediri mengikuti acara yang digelar di lantai 5 gedung Bank Indonesia, yang beralamat di Jl. Brawijaya No. 2, Kota Kediri. Sosialisasi yang berlangsung selama satu setengah jam itu disampaikan oleh Achmad Fauzi Batubara, selaku asisten manajer tim pengelolaan rupiah.

Acara tersebut dibawakan secara santai, yang diawali dengan pemutaran iklan layanan masyarakat, dan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi seputar seluk-beluk rupiah. Peserta diajak untuk memahami cara mengenali keaslian uang, teknologi yang dipakai untuk pembuatan uang, dan ciri khas dari setiap pecahan mata uang.

“Untuk menghindari pemalsuan uang, kode khusus juga diterapkan dalam proses pembuatan rupiah. Tak hanya itu, rupiah juga telah mengalami pembaruan di semua pecahannya pada tahun 2004 dan 2016,” ujar Fauzi.

Antusiasme peserta yang sangat tinggi terlihat saat sesi tanya jawab dilakukan. Ada banyak dari mereka yang menjawab maupun melontarkan pertanyaan kepada narasumber. Namun, ada satu materi yang cukup menarik minat peserta, yaitu soal penukaran uang.

Semua uang yang koyak, lusuh, terbakar dapat ditukarkan asal asli,& ujar Achmad Fauzi B. Penyampaian informasi ini tentunya sangat menarik, mengingat tidak banyak yang tahu jika uang rusak bisa ditukarkan kembali. Kendati demikian, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika hendak menukarkannya. Salah satunya adalah kerusakan tidak boleh melampaui 2/3 bagian uang. “Yang terbakar pun bisa, tapi prosesnya lebih rumit,” sambungnya.

Sesi tanya jawab pun berakhir dengan dibagikannya cendera mata kepada peserta. Bank Indonesia akan terus melakukan sosialisasi ini dengan sasaran tidak hanya masyarakat luas, tetapi juga kepada satuan POLRI guna memberi edukasi tentang keaslian uang.

Kegiatan ini dianggap penting oleh BI, terutama jika mengingat di Kediri masih ditemukan uang palsu. “Walaupun jumlahnya masih dalam skala yang cukup kecil, uang palsu berbahaya bagi perekonomian karena dapat meningkatkan risiko inflasi—menjatuhkan nilai mata uang. Oleh karena itu, sosialisasi ini akan menjadi bagian dari program Bank Indonesia ke depannya,” tutur Fauzi.

Namun, untuk saat ini sosialisasi lebih diutamakan bagi generasi muda. Dengan program ini, BI berharap masyarakat semakin memahami ciri rupiah, sehingga peredaran uang palsu bisa terus ditekan.

Reporter : Sheila Dewi Agnefia – SMK YP 17

Editor: Della Cahaya Praditasari

Follow Untuk Berita Up to Date