Berjuang Demi Air Bersih

Share this :

Tulungagung, Koran Memo – Puluhan warga dari Dusun Tumpakkambil dan Dusun Kresikan Desa Kresikan Kecamatan Tanggunggunung Kabupaten Tulungagung berbondong – bondong menuju ke tanki air bersih untuk mengantre mendapatkan air bersih yang disalurkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung, Jumat (11/09). Warga rela berpanas-panasan untuk mendapatkan air bersih yang sulit diperoleh menyusul kekeringan akibat kemarau panjang beberapa waktu terakhir. BPBD menyalurkan 12.000 liter air yang disalurkan BPBD kepada puluhan warga yang membutuhkan di desa tersebut.

Puluhan warga Desa Kresikan Kecamatan Tanggung gunung ketika mengantri menerima bantuan air bersih kemarin (deny/memo)
Puluhan warga Desa Kresikan Kecamatan Tanggung gunung ketika mengantri menerima bantuan air bersih kemarin (deny/memo)

Sutiyem, warga setempat yang ikut mengantre untuk mendapatkan air bersih mengatakan, dirinya rela mengantre dengan membawa beberapa tempat seperti timba, bak air, hingga penampungan air berkapasitas 130 liter. Hal itu dilakukan agar tidak lagi membeli air untuk kebutuhan setiap hari, baik untuk minum maupun memasak.

Dia menuturkan sebelum datangnya bantuan air bersih ini harus  membeli air ukuran 130 liter dengan harga Rp 12.000. Namun lokasi pembelian juga teralalu jauh, sehingga dirinya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk jasa angkut air dari lokasi pembelian hingga rumahnya sebesar Rp 15.000 atau bisa lebih. “Untuk keperluan setiap hari harus membeli air, selain itu juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk ojek. Alhamdulillah bantuan sudah sampai sehingga tidak perlu lagi untuk membeli air,” tutur perempuan berusia 56 tahun.

Disamping itu, Kepala BPBD Kabupaten Tulungagung Soeroto, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Nadlori Alwi menyatakan, penyaluran air bersih terhadap warga yang membutuhkan ini berdasarkan permintaan yang diajukan kepada pihak BPBD melalui telepon maupun surat resmi. Pemberian bantuan pada bulan Sepetember ini sudah mulai dilakukan setiap hari dengan berpindah – pindah sesuai data yang masuk di BPBD. “Semenjak awal bulan ini setiap hari pengiriman bantuan air bersih dilakukan dengan sasaran berbeda,” terangnya.

Alwi menuturkan, BPBD setiap hari mengirimkan bantuan air bersih sebanyak dua tanki air yang mempunyai kapasitas 4000 liter dan 8000 liter. Jumlah itu dirasa sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, dirinya menghimbau kepada masyarakat agar air tersebut hanya digunakan untuk minum dan memasak. Sedangkan untuk keperluan mandi maupun pemberian minum hewan ternak agar dicarikan di sungai. “Kami menghimbau agar bantuan air bersih digunakan untuk minum dan memasak, jika untuk ternak bisa dicarikan dari sungai,” tutur pria yang dikenal ramah itu.

Lanjut Alwi, sampai saat ini ada tujuh desa yang meminta bantuan air bersih. Ketujuh desa tersebut berasal dari tiga kecamatan seperti Desa/Kecamatan Besuki, Desa Kalidawe, dan Desa Penggunguni Kecamatan Pucanglaban, serta Desa Tenggalrejo, Pakisrejo, Jengglongharjo dan Kresikan yang berada di Kecamatan Tanggunggunung. ”Mulai dari pertengahan hingga akhir bulan agustus terdapat empat tambahan desa lagi yang  memerlukan bantuan air bersih yaitu Desa Tenggalrejo, Pakisrejo, Jengglungharjo dan Kresikan di Kecamatan Tangunggunung,” katanya.

Alwi menambahkan, untuk musim kemarau memang banyak terjadi beberapa daerah yang mengalami kekeringan, akan tetapi kekeringan dibedakan menjadi dua yakni kekeringan langka dan kekeringan kritis. Yang dimaksud dengan kering kritis, apabila pemenuhan air di dusun itu hanya mencapai 10 liter lebih per orang per hari. Selain itu, jarak yang harus ditempuh masyarakat untuk mendapatkan air bersih hingga dalam radius 3 kilometer lebih. Sedangkan yang dimaksud dengan kategori kering langka, apabila ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan warga dibawah 10 liter per orang, per hari, disamping itu, jarak yang harus ditempuh warga untuk mendapatkan air antara 0,5 kilometer hingga maksimal 3 kilometer. “Untuk sementara ini ke tuju desa di wilayah Kabupaten Tulungagung masih mengalami kekeringan langka,” pungkasnya. (den/Jb)

Follow Untuk Berita Up to Date