Berebut 2016 Apem

Share this :

Jombang, Memo – Ratusan warga Jombang tumpah ruah di Gelanggang Olahraga (GOR) Merdeka di Jalan KH Wahid Hasyim Jombang, Minggu (5/6) sore. Mereka berkumpul untuk berebut 2016 kue apem dalam tradisi gerebek apem. Tradisi tahunan itu digelar untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan

Tradisi grebek apem untuk menyambut datangnya bulan suci ramadhan (agung/memo)
Tradisi grebek apem untuk menyambut datangnya bulan suci ramadhan (agung/memo)

Acara gerebek apem diawali dari proses pengguntingan pita oleh Bupati Jombang, Nyono Suharli Wihandoko. Begitu pita digunting, gunungan apem baru dikelurkan dari halaman GOR. Ratusan warga yang telah memadati lokasi, langsung berebut menyerbu kue tersebut.

Karena banyaknya pengunjung yang berebut apem, tidak jarang dari mereka yang terinjak dan terjepit. Beruntung, sejumlah petugas yang ada di lokasi langsung bergerak. Mereka meminta agar para pengunjung mundur. Tidak kurang dari 10 menit gunungan apem itu ludes tak tersisa.

Tri Ika (24), warga Kecamatan Diwek mengatakan, dirinya nekat mengikuti gerebek apem untuk menyemarakkan datangnya bulan suci Ramadan. Tri Ika menyadari, ada resiko terjepit massa ketika ikut dalam ritual tersebut. Namun bagi dia, justru disitulah letak kegembiraan itu.

Tidak percuma wanita berjilbab ini mengikuti gerebek apem. Sebab, usai acara dia membawa pulang satu kantong kresek berisi apem. “Meski berdesakan, tapi mengasyikkan. Ini saya mendapat satu plastik,” ujar Tri sembari menunjukkan kue apem yang dimaksud.

Sementara, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko mengatakan, gerebek apem merupakan acara tahunan yang digelar kota santri dalam menyambut Ramadan. Sebanyak 2016 kue apem itu berasal dari 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang. Menariknya, lanjut Nyono, apem tersebut berbahan non beras. Itu dilakukan sekaligus untuk mengkampanyekan panganan non beras. “Apem merupakan kue khas untuk menyambut Ramadan. Makanya dalam tradisi Jawa sebelum memasuki bulan suci, selalu saling memberi kue tersebut kepada tetangga sekitar. Kue apem adalah simbol permohonan maaf,” ujar Nyono.

Dia menambahkan, gerebek apem tersebut juga sebagai penanda dibukanya pasar Ramadan di Jl KH Abdurrahman Wahid. Sepanjang jalan tersebut muncul pedagang dadakan selama bulan puasa. Kebanyakan dari mereka menjual kebutuhan puasa serta takjil. “Kami berharap pasar Ramadan ini semakin menggerakkan ekonomi warga,” pungkas Nyono. (ag)