Berbekal Kemampuan Konveksi, Polio Tak Menghalangi

Penggerak dan Motivator Kaum Difabel

Kediri, Koran Memo – Tidak ada yang tidak mungkin bagi manusia selagi dia mau untuk berjuang dengan segala kekurangan yang dimiliki. Begitulah ungkapan kata yang tepat untuk penyandang difabel satu ini, Umi Salamah, warga Dusun Budi Mulya Desa Branggahan Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri. Perempuan ramah berhijab ini mampu membuktikan kelebihan yang dia miliki sehingga menjadi sumber inspirasi.

Umi Salamah, saat menerima penghargaan Lencana Adi Warta dari PWI perwakilan Kediri(yudha/memo)
Umi Salamah, saat menerima penghargaan Lencana Adi Warta dari PWI perwakilan Kediri(yudha/memo)

Rasa iba akan muncul saat kita melihat langkah kaki perempuan ini yang tak mampu berjalan sempurna akibat terkena polio sejak berusia 1 tahun. Meski demikian, Umi Salamah tidak ingin menggantungkan hidup dengan mengandalkan belas kasih dari orang lain. Hal itu dia buktikan dengan aktivitas maupun kreativitas yang dia jalani di tengah keterbatasan fisik yang dimiliki.

Bahkan tindakan yang dilakukan oleh penyandang difabel yang satu ini patut untuk diberikan apresiasi. Dia selalu berkomitmen untuk menjadi penggerak dan motivator bagi ratusan penyandang cacat yang ada di Kediri agar tetap memiliki semangat hidup dengan terus berkarya.

Untuk menopang kehidupan sehari-hari dia menekuni usaha konveksi. Berbekal pengalaman mengikuti bimbingan keterampilan yang diadakan Dinas Sosial Jawa Timur pada tahun 1994, Umi mulai mengembangkan kemampuannya untuk membuka usaha.

Awal untuk menekuni usaha tersebut tentu tidak semulus yang dibayangkan seperti saat ini. Hanya bermodal satu mesin jahit hasil pemberian Dinsos Jatim, Umi Salamah mulai menekuni usaha konveksi miliknya dengan mengajak dua orang penyandang cacat yang tinggal di desanya. Saat itu jenis produksi yang dibuatnya yakni produk  berupa tas dan jilbab.

Perjuangan hidup yang patut diapresiasi darinya tidak sebatas itu saja. Untuk memberi motivasi hidup kepada penyandang difabel yang lain, perempuan ini rela berjalan hingga menempuh jarak beberapa kilometer dari desa ke desa yang lain. Menurutnya, hal ini dijadikan sebagai cara pengembangan usaha dari pintu ke pintu.

Biasanya Umi Salamah memberikan pekerjaan kepada kaum difabel yang lain. Kaum difabel yang telah menyelesaikan pekerjaannya di rumah dapat menyetor saat Umi Salamah mengunjungi rumahnya.  Seiring berjalannya waktu usaha yang digeluti oleh Umi Salamah semakin berkembang dibarengi dengan bertambahnya jumlah karyawan serta cakupan wilayah.

Melihat antusias serta kepercayaan diri yang luar biasa dari para penyandang cacat di wilayahnya dalam bekerja, akhirnya muncul inisiatif untuk menambah jenis produksi berupa aksesoris hiasan pengantin, seragam, dan kerajinan manik-manik.

Dengan prinsip ekonomi kerakyatan yang dipegang teguh olehnya hingga belasan tahun, akhirnya dia dapat meningkatkan taraf hidup kaum difabel di Kediri. Bahkan banyak kaum difabel hasil binaannya yang telah membuka usaha sendiri dan memiliki banyak karyawan.

Umi Salamah selalu berpesan kepada sesama kaum difabel agar tetap semangat dan berpartisipasi membangun bangsa. Dia berharap di tengah keterbatasan fisik yang dimiliki, para kaum difabel tetap berusaha untuk berkarya karena masih ada anggota fisik yang lain. “Meskipun di tengah keterbatasan fisik, para penyandang difabel harus tetap menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain,” harapnya.

Keterbatasan fisik yang dimiliki seolah tidak membuat Umi Salamah berhenti untuk menjadikan dirinya berarti bagi orang lain. Bahkan dalam membekali serta menjaga calon-calon penerus bangsa, dia membekalinya dengan nilai-nilai agama dengan mendirikan Taman Pendidikan Quran. Hingga kini murid-murid yang menuntut ilmu di tempatnya sudah mencapai ratusan dan tersebar dari berbagai penjuru desa. (andik sukaca)

 

Follow Untuk Berita Up to Date