Bencana Kekeringan, 4 Desa Digelontor Air Bersih

Trenggalek, koranmemo.com – Bencana kekeringan mulai mengancam sebagian wilayah Kabupaten Trenggalek. Setidaknya sebanyak empat desa di wilayah Kecamatan Panggul dilaporkan mengalami kekeringan dan telah mendapat bantuan suplai air bersih. Masyarakat diminta untuk lebih waspada memasuki peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

Untuk mengantisipasi kekeringan meluas seiring datangnya musim kemarau, ribuan liter air bersih telah digelontorkan ke empat desa tersebut. Empat desa di wilayah Kecamatan Panggul yang sudah mengalami kekeringan  adalah Desa Besuki, Desa Nglebeng, Desa Karang Tengah dan Desa Terbis. “Kita sudah melakukan pendistribusian air bersih,” kata Sekretaris BPBD Trenggalek, Tri Puspita Sari, Senin (17/6).

Bantuan  air bersih itu diberikan berdasarkan permintaan warga setempat. Pasca adanya permintaan bantuan, pihaknya meninjau ke lapangan untuk menentukan kelayakan daerah tersebut menerima bantuan. “Permintaan dari desa mengetahui kecamatan. Kemudian kita kroscek ke lapangan, evaluasi dan kirim. Pengiriman baru-baru ini, kalau enggak Sabtu-Minggu,” imbuhnya.

Untuk mencukupi permintaan suplai air bersih yang diprediksi bakal berlangsung masif, telah disediakan anggaran untuk air bersih sebesar Rp 150 juta. Berkaca tahun lalu, nominal itu belum mencukupi sehingga harus mendapatkan sokongan Rp 500 juta dari belanja tidak terduga (BTT) Pemkab Trenggalek. “Ada kenaikan, namun jika dibandingkan tahun lalu ada kenaikan tapi tidak banyak,” ujarnya.

Berkaca tahun lalu, kekeringan hampir terjadi secara merata di 14 kecamatan. Setidaknya lebih dari 38 sampai 43 titik dilaporkan mengalami kekeringan dan telah mendapat suplai air bersih. Untuk mencukupi permintaan, tidak menutup kemungkinan juga bakal ditopang oleh BTT Pemkab, Provinsi, maupun dana siap pakai BNPB. “Karena tahun lalu yang terdampak banyak dan kekeringan panjang,” imbuhnya.

Berdasarkan prediksi yang dilakukan, kemungkinan rentan waktu kekeringan tahun ini sama seperti tahun lalu. Namun dia tidak dapat memastikan mengingat kecenderungan perubahan musim karena banyaknya siklon. “Kayaknya hampir sama dengan tahun kemarin, tapi kita tidak tahu karena sekarang banyaknya siklon sehingga banyak perubahan. Tidak jauh berbeda, mungkin sekitar enam bulan untuk kekeringan,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date