Bayar Denda Listrik Dengan 90 Kilogram Uang Logam

Share this :

Jombang, koranmemo.com – Kantor PLN (Perusahaan Listrik Negara) Rayon Ngoro, kedatangan tamu, Senin (23/7). Mereka adalah rombongan takmir Masjid Baiturrahmat, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Hanya saja, mereka datang bukan untuk bersilaturahmi dengan jajaran manajemen, tetapi untuk membayar denda listrik masjid sekitar Rp 10 juta.

Uniknya, mereka membawa uang yang didominasi uang logam untuk membayar denda. “Ada pecahan  Rp 100, kemudian Rp 200, serta Rp 500 dan Rp 1.000. Tadi sempat ditimbang beratnya sekitar 90 kilogram,” kata Pairin (55), sekretaris Takmir Masjid Baiturrahmat kepada wartawan.

Pairin menjelaskan, kedatangan ke kantor PLN ini bermula dari masjid Baturrahmat yang harus membayar tagihan dengan nominal yang cukup besar. Ini tidak lepas setelah masjid mengadakan acara pengajian pada akhir Maret 2018 lalu.

Selang beberapa hari kemudian, pihak PLN melakukan kontrol meteran dan menemukan bekas tusukan pada kabel sehingga PLN mensinyalir ada peraktik pencurian listrik.

“Urusan teknis (sebenarnya) diserahkan ke tukang sound system. Hingga akhirnya tanggal 3 April lalu kami diminta tanda tangan berita acara yang intinya masjid Baiturrahmat dikenai beban tagihan susulan sekitar Rp 19 juta,” paparnya.

Karena PLN tidak mau tahu, seluruh pengurus masjid berupaya keras untuk membayar tagihan tersebut.“Semula hanya mampu bayar tunai Rp 5 juta. Kita juga sudah mengangsur Rp 1,7 juta untuk Mei, Juni, Juli. Nah, sisanya sekitar Rp 10 juta kita lunasi hari ini,” tutur Pairin.

Masih menurut Pairin, pihak masjid juga pernah berusaha meminta keringanan ke manajemen PLN Rayon Ngoro. Hanya saja, keinginan untuk bertemu dengan manager PLN Rayon Ngoro, Miftahus Saidin, tidak berhasil. “Saya sudah dua kali ke kantor PLN, tapi tidak pernah ketemu,” ujarnya.

Sementara, dalam pelunasan, rombongan takmir masjid hanya ditemui Joko, Kepala Bidang Teknik PLN Rayon Ngoro. Kemudian,  Joko meminta stafnya untuk menghitung kembali beban tagihan yang harus dibayar. Dalam proses penghitungan, seluruh uang baik dari kotak amal maupun dari karung, dituangkan ke atas sebuah sarung yang sudah disiapkan sebelumnya.

“Tagihannya tidak sampai Rp 10 juta, sekitar Rp 9 juta sekian. Itupun bukan denda tapi tagihan susulan,” ungkap Joko.

Reporter : Agung Pamungkas

Editor : Della Cahaya Praditasari