Batik Topeng Panji Kediri, Kenalkan Sejarah dan Budaya Kediri Melalui Batik

Share this :

Kediri, koranmemo.com – Hari batik nasional mengingatkan kembali warga Indonesia agar bangga dengan kain tradisional yang sudah diakui sebagai warisan dunia. Momentum ini tidak hanya untuk diperingati dengan memakai batik saja, tetapi juga berkreasi mengembangkan motif. Seperti Ida Sulistyawati, warga Perumahan Wilis Indah 2 Kelurahan Pojok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, sejak 4 tahun lalu wanita ini mulai mengembangkan motif Topeng Panji yang bertujuan agar bisa menjadi wastra khas Kota Kediri.

Nama perempuan yang bekerja sebagai guru seni rupa di SMK PGRI 1 Kota Kediri ini memang tidak begitu dikenal. Tidak seperti suaminya, Jamran, pematung yang sudah terkenal di wilayah Jawa Timur khususnya Kota Kediri. Meski pada bidang seni tidak begitu terkenal dibanding suaminya, Ida memiliki karya yang dituangkan pada kain batik. Dia memilih menggambar Topeng Panji sebagai kreasi sekaligus mengenalkan budaya asli Kediri kepada masyarakat luas.

Ketika ditemui di rumahnya, wanita lulusan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya ini menjelaskan, saat kuliah sebenarnya dia sudah mempelajari dasar batik. Namun ketika lulus, dia tidak langsung mencoba mengaplikasikan seninya di kain batik. Baru sekitar tahun 2014 dia mulai mendalami batik melalui pelatihan yang diadakan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri.

“Saya sempat vakum 2 tahun dan baru mulai tekun lagi pada tahun 2016,” tukasnya.

Karena sudah memiliki dasar seni rupa, membuat sketsa dan mencanting malam pada kain memang sudah tidak begitu sulit baginya. Justru dalam hal pewarnaan menurutnya yang menjadikan pembuatan batik menjadi sangat sulit. Tapi tantangan itulah yang membuat guru seni ini malah mencintai batik dan menekuninya sebagai profesi sambilan selain mengajar siswa dan siswi di sekolah.

Baca Juga: Tangkap Peluang, Pengrajin ini Buat Masker Bermotif Batik Sukun

“Hasil akhir pewarnaan batik itu sulit ditebak. Kadang ketika kering warna yang kita inginkan bisa menjadi lebih bagus dari perkiraan dan juga sebaliknya. Itu awalnya membuat saya mulai menekuni batik,” katanya.

Dalam beberapa pelatihan yang dia ikuti, salah satunya di Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB), dia sempat mempelajari berbagai cara termasuk pewarnaan. Dari sana, dia mempelajari beberapa faktor penting untuk pewarnaan. Seperti kandungan air, lama pencelupan, dan bahan pewarna yang digunakan.