Banyak Event Besar Jadi Sorotan

Kaleidoskop Pendidikan 2016

 

Tahun 2016, bagi dunia pendidikan Kota Kediri bisa disebut sebagai tahun perubahan dan wacana. Banyak hal yang berubah, namun untungnya, mayoritas menuju ke arah yang positif. Ada beberapa event besar bagi Kota Kediri yang terjadi di tahun 2016. Mulai dari Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di bulan April, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di bulan Juli, dibangunnya gedung kampus III Universitas Brawijaya dan Politeknik Kediri, hingga wacana full day school dan penghapusan UN

Dimulai dari grafik dunia pendidikan Kota Kediri sepanjang tahun 2016. Seperti yang pernah diberitakan oleh Koran Memo sebelumnya, Pemerintah Kota Kediri membuka peluang beasiswa bagi mahasiswa asli Kota Kediri yang kurang mampu. Meski sudah dibuka sejak tahun 2014, namun karena masih sedikit warga Kota Kediri yang tahu, beasiswa ini sepi peminat. Di tahun 2014, hanya ada 6 mahasiswa yang mendaftar. Tahun 2015, ada 22 mahasiswa, dan tahun 2016 langsung meningkat drastis hingga 132 mahasiswa. Untuk target dari pemkot sendiri adalah 1.500 penerima beasiswa.

Selanjutnya, grafik sekolah yang melaksanakan UNBK. Tahun ini, untuk seluruh SMA sederajat, sudah 100 persen melaksanakan UNBK. Sementara untuk SMP sederajat, masih 33 persen yang menjalankan UNBK. Targetnya, tahun depan 100 persen sekolah di Kota Kediri, baik swasta maupun negeri, akan melaksankan UNBK.

Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Kediri bersama seluruh sekolah pelaksana UNBK, beberapa hal yang harus digarisbawahi adalah sarana dan prasarana. Tahun ini, pelaksanaan UNBK, meskipun lancar, masih terkendala jumlah komputer yang terbatas, sehingga ujian harus dilaksanakan sebanyak tiga gelombang per hari. Belum lagi jika di tengah ujian listrik tiba-tiba terputus.

“Sebenarnya untuk listrik, sebelumnya sudah dilakukan koordinasi dengan PLN. Namun karena kemarin ada hal yang terjadi di luar perkiraan, yakni hujan deras dan pohon tumbang, maka tidak ada lagi yang bisa diperbuat selain menyiapkan diri dengan menyewa genset,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Siswanto.

Makanya, jika tahun depan pengadaan komputer bisa ditambah, harapannya para siswa tidak perlu melakukan UNBK dengan 3 gelombang, melainkan hanya 1 gelombang. Kalau hanya dilaksanakan 1 gelombang dan pagi hari, maka kemungkinan UNBK terganggu oleh listrik yang terputus akan semakin kecil. “Semoga saja tahun depan bisa ditambah,” tuturnya.

Selanjutnya, untuk PPDB, isu pungli adalah yang paling santer. Sekolah-sekolah sampai diminta untuk memasang spanduk yang menegaskan bahwa sekolah tidak memungut biaya sepeser pun untuk penerimaan murid baru. Keputusan tersebut kemudian diteruskan dengan larangan pengadaan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) dan seragam sekolah. Untuk seragam sekolah, sama seperti tahun lalu, Disdik sudah menyiapkan kain seragam sekolah gratis bagi seluruh siswa sekolah negeri di Kota Kediri.

Dari data Dinas Pendidikan Kota Kediri, tahun 2016 ini jumlah penerima kain memang meningkat dibanding tahun lalu. Untuk siswa SD, dari 5.376 meningkat jadi 5.417. Untuk siswa SMP, dari 6.051 meningkat jadi 6.555. Sementara untuk siswa SMP, dari 9.583 siswa meningkat jadi 12.100 siswa. Jadwal penerimaan pun juga tidak selambat ketika di tahun 2015. Dua bulan setelah mereka masuk sekolah baru, kain seragam gratis sudah dibagikan.

Kemudian yang tidak kalah seru adalah pembangunan dua gedung universitas negeri di Kota Kediri, yakni kampus III Universitas Brawijaya dan Politeknik Kediri. Pembangunan kampus III UB menelan anggaran sebesar Rp 19 miliar, sementara Politeknik Kediri menelan anggaran Rp 13,5 miliar. Sayangnya, ketika Politeknik Kediri digadang-gadang hanya kurang 1 persen menuju negeri, pembangunan kampus III UB terpaksa harus terhenti karena terganjal anggaran. “Harapannya, jika dua universitas negeri ini nanti berdiri, cita-cita saya untuk menjadikan Kota Kediri sebagai kota pendidikan bisa terwujur,” ujar Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar dalam malam refleksi prestasi 2016.

Menutup tahun 2016, isu yang berkembang di dunia pendidikan tentu saja adalah wacana full day school dan penghapusan UN. Kedua isu tersebut sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan tenaga pendidik di Kota Kediri. Mereka yang mendukung, menganggap wacana tersebut sebagai terobosan baru yang layak untuk dicoba. Sementara mereka yang menolak, menganggap wacana tersebut tidak masuk akal dan hanya akan memberatkan para siswa karena perubahan sistem yang tidak dipikirkan konsekuensinya dengan matang.

“Namun apapun pendapat yang bergaung tentang wacana tersebut, Dinas Pendidikan Kota Kediri siap untuk mendukung apapun keputusan dari pusat,” ujar Siswanto.

Pada akhirnya, wacana penghapusan UN masih hanya sekedar menjadi wacana, karena buktinya, jadwal pelaksanaan UN di tahun 2017 sudah muncul, yakni di bulan April dan Mei.

Tahun 2017 sudah di depan mata. Dengan program-program Walikota Kediri yang masih terus berkembang seperti EMAS (English Massive) dan pemberian insentif bagi seluruh guru, bagaimana dunia pendidikan di Kota Kediri di tahun 2017? (della cahaya praditasari)

 

 

 

 

 

Follow Untuk Berita Up to Date