Bahan Baku Sulit, Produksi Tasbih Kayu Songo Dibatasi

Tulungagung, koranmemo.com – Tidak banyak yang memproduksi tasbih terlebih dengan bahan baku kayu dari sembilan jenis kayu langka di Indonesia. Seperti yang dilakukan oleh satu keluarga di Dusun Simo Desa Simo Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung. Agar tidak mengecewakan konsumen, mereka harus membatasi jumlah produksi dan tidak menjualnya secara langsung di toko – toko karena bahan baku yang digunakan terbilang sulit dicari.

Pembuat karajinan tasbih kayu sembilan jenis atau tasbih kayu songo itu adalah Katmadi. Kini, usianya yang sudah menginjak 70 tahun tidak sanggup lagi melanjutkan pembuatan tasbih. Tapi semua pengerjaan kini beralih pada anak pertamanya, Rekso Yuwono. “Anak saya yang mengerjakan, karena mata saya sudah sulit melihat. Apalagi, tasbih harus memasukkan tali ke lubang – lubang kecilnya itu,” katanya saat Koranmemo.com bertandang ke rumahnya, Sabtu (11/1).Ketika itu, Katmadi sedang menemui beberapa tamu yang sedang memesan tasbih kayu songo darinya. Memang pria kelahiran 1949 silam itu tidak pernah menjual tasbih di toko atau tempat khusus penjualan. Tapi, warga pencari tasbih khusus berisi sembilan jenis kayu berdatangan dari berbagai daerah. Mulai sekitar Tulungagung, Banyuwangi, Solo, Jogjakarta, Surabaya, Jakarta, bahkan sampai Sumatera.

“Mereka tahu dari mulut ke mulut. Biasanya datang langsung kesini, ada yang kadang sopirnya atau pembantunya yang datang kesini minta dibuatkan tasbih kayu songo. Memang banyak yang meyakini, jika tasbih ini memiliki banyak manfaat. Seperti untuk menjaga kesehatan, ketenangan hati, seperti itu,” katanya.

Meski banyak pemesan, Katmadi harus membatasi produksi karena bahan baku yang sulit dicari. Sembilan jenis kayu dalam satu tasbih itu adalah, kayu Setigi, Kayu Nogosari, Kayu Dewandaru, Kayu Galih Johart, Kayu Galih Asem, Kayu Galih Walikukun, Kayu Liwung, Kayu Cendono, dan Kayu Galih Cecang (Kayu Bromo). Memang Katmadi tidak mencari sendiri kayu itu didapatkan dari beberapa orang yang sering berkunjung ke hutan atau tempat – tempat lainnya.

“Makanya kalau ingin tasbih kayu songo ya pesan dulu. Bisa jadi bahannya tidak ada, bisa juga ada. Karena ini termasuk sulit, kadang dalam satu kumpulan pohon belum tentu ada. Kadang ada hanya satu pohon saja. Itulah kenapa saya tidak produksi setiap hari, hanya jika ada yang pesan saja baru saya buatkan,” katanya.

Katmadi memulai membuat tasbih kayu songo sekitar tahun 1990 an. Awalnya, kakaknya yang berada di Ngawi mendapatkan pesanan dari Keraton Jogja untuk membuat tasbih berisi sembilan jenis kayu. Namun, kakaknya itu tidak bisa membuat kemudian, Katmadi memberanikan diri untuk membuatnya secara langsung. Sembilan jenis kayu yang dianggap memiliki manfaatnya itu dia dapatkan dari buku yang dia terima dari Keraton Jogja. Dari situ, dia terus melanjutkan hingga kini ilmu itu diturunkan kepada anaknya.

“Dulu mulai tahun 1993 sampai 2001 saya membuat banyak. Karena kebutuhan dari keraton jogja itu banyak, mereka minta dikirimkan 50 tasbih setiap minggunya. Dulu jenis kayu itu masih mudah dicari, jadi bisa buatnya dalam jumlah banyak. Kalau sekarang sudah tidak bisa lagi, apalagi yang pesan sekarang juga sudah wafat,” terang Katmadi.

Katmadi memang memiliki modal sebagai pembuat kerajinan kayu. Seperti, sendok, entong, dan beberapa gerabah dari kayu. Kebetulan di Dusun Simo sejak dulu merupakan pusat pembuatan gerabah dari kayu. Hal itu masih terjadi sampai sekarang, hampir setiap rumah yang ada di sana membuat kerajinan dari kayu. Namun, hanya Katmadi dan anaknya saja yang mampu membuat tasbih kayu songo tersebut.

“Pernah ada yang berusaha membuat sendiri, tapi banyak yang tidak jadi. Saya juga tidak tahu kenapa, padahal alat yang digunakan sama seperti membuat kayu. Mungkin karena ini jenis kayu khusus ada unsur cocok dan tidak cocoknya,” kata Katmadi.

Tasbih kayu songo milik Katmadi dihargai dengan murah. Satu tasbih berisi 99 biji sembilan jenis kayu berbeda itu, hanya dihargai Rp 200 ribu saja. Tidak hanya tasbih, Katmadi juga melayani jika ada yang pesan gelang dengan berisi sembilan jenis kayu yang berbeda. Harganya hanya Rp 50 ribu saja untuk satu gelang

Reporter Zayyin Multazam Sukri

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date