Aspalindo Akui Buang Limbah B3

Share this :

Jombang, Memo – Teka-teki asal mula ribuan sak limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)  jenis abu aluminium yang ditimbun di Dam Yani Desa Budugsidorejo Kecamatan Sumobito akhirnya terkuak. Asosiasi Pengusaha Aluminium Indonesia (Aspalindo) Jombang mengaku mengirim ribuan sak ke lokasi atas dasar permintaan warga.

Inilah tumpukan sak limbah yang digunakan untuk menahan tanggul sungai (dok. memo)
Inilah tumpukan sak limbah yang digunakan untuk menahan tanggul sungai (dok. memo)

Jarot Subiyanto (38), Wakil Ketua Aspalindo Jombang menjelaskan, pada November 2015 lalu, gabungan kelompok tani 17 desa yang berada di sekitar Dam Yani mengajukan permintaan secara tertulis ke Aspalindo Jombang. Isinya, warga meminta agar tanggul Dam Yani di sisi selatan, Desa Budugsidorejo dan sisi utara, Desa Jombok diuruk dan ditahan dengan ribuan sak limbah B3 abu aluminium.

“Saat itu kondisi tanggul Dam Yani kritis, sudah mau jebol. Masyarakat khawatir kalau dibiarkan, luapan air Sungai Gunting akan merusak 583 hektare sawah di sekitar Dam Yani. Atas permintaan masyarakat tersebut Aspalindo Jombang mengirim puluhan truk limbah abu aluminium ke Dam Yani. Ribuan sak limbah beracun itu ditata rapi bersama warga di tanggul yang nyaris ambrol,” kata Jarot kepada wartawan, Jumat (10/6).

Meski begitu, Jarot mengklaim ribuan sak limbah yang ditimbun di Dam Yani tak mencemari lingkungan sekitar, termasuk ekosistem Sungai Gunting. Menurut dia, limbah berupa abu aluminium itu justru akan menjadi netral ketika terkena air. Sifat limbah berwarna abu-abu ini mengeluarkan uap panas berbau menyengat saat terkena air.  “Air menetralkan limbah ini. Dikatakan mencemari lingkungan dari mana? Harus dibuktikan dulu dengan uji lab terhadap kondisi air dan tanah di sekitar Dam Yani,” kilahnya.

Jarot menjelaskan, Aspalindo Jombang saat ini beranggotakan 136 pengusaha cor aluminium. Mereka tersebar di 14 desa di Kecamatan Sumobito dan lima desa di Kecamatan Kesamben. Home industri ini berjalan di kedua kecamatan tersebut sejak tahun 1970. Rata-rata dalam sehari, kata Jarot, ratusan pengusaha mengolah 30 ton limbah aluminium dan bungkus makanan ringan yang didatangkan dari kawasan Ngoro Industri Persada (NIP), Maspion Sidoarjo dan kawasan industri di Tangerang, Banten.

Limbah tersebut oleh para pengusaha diolah dengan cara dibakar. Aluminium batangan yang dihasilkan mencapai 10-50 persen dari limbah yang diolah. Sedangkan residunya berupa abu aluminium, seperti yang ditimbun di Dam Yani. “Residu akhir sekitar 20-25 persen itu yang masuk karung. Oleh pengusaha ada yang ditimbun di gudang masing-masing, ada yang dipakai menguruk lahannya sendiri dan lahan warga sekitar yang kebetulan butuh diuruk,” ungkapnya.

Jarot pun menyadari perbuatan pengusaha menjadikan limbah B3 aluminium untuk uruk lahan, berpotensi besar mencemari lingkungan. Namun, puluhan tahun lamanya praktik itu terpaksa dilakukan lantaran tak kuat membayar biaya pengolahan limbah ke PT Prasadha Pamunah Limbah Industri  (PPLI) di Jawa Barat yang tarifnya Rp 6.000 per kilogram. “Kalau harus kirim ke PPLI pengusaha tidak mampu, kursnya terlalu mahal. Harapan kami pemerintah menyiapkan lahan untuk penampungan limbah. Kemudian harga di PPLI supaya tak semahal itu,” pungkasnya.

Sementara, dikonfirmasi terpisah, Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Herio Ramadhona Chaniago menjelaskan, pihaknya sedang menyelidiki kasus dumping limbah di Dam Yani tersebut. Sejauh ini, pihaknya baru meminta keterangan saksi ahli dari BLH Jombang. “Kami sudah meminta keterangan dari BLH Jombang, mereka memastikan bahwa limbah di Dam Yani tergolong B3. Jadi memang ada unsur perbuatan pidana dalam kasus ini,” jelasnya.

Hanya saja, lanjut Herio, pihaknya belum berani menaikkan kasus ini ke tahap penyidikan. Dia khawatir akan terjadi gejolak di warga Sumobito dan Kesamben. Pasalnya, keberadaan limbah B3 di Dam Yani atas permintaan warga. “Tidak mungkin kami memidanakan semua pengusaha atau warga sekitar. Itu juga permintaan warga karena dana untuk perbaikan tanggul Dam Yani tak juga turun. Akhirnya sepakat diuruk pakai limbah itu. Kami menunggu dari BLH dulu lah, harusnya solusinya di Pemda,” pungkasnya. (ag)