Angka Perceraian Tinggi

Share this :
Situasi di Pengadilan Agama Kabupaten Kediri (yudha/memo)
Situasi di Pengadilan Agama Kabupaten Kediri (yudha/memo)

*Tiap Hari, 15 Pasutri Ajukan Gugatan Cerai

Kediri, Memo-Angka perceraian pasangan suami istri (pasutri) di Kabupaten Kediri lumayan tinggi. Dari data yang diperoleh, sebanyak 15 pasutri per hari mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Kabupaten Kediri.

Bagian Humas Pengadilan Agama Kabupaten Kediri, Drs Wildan Tojibi Msi mengatakan jumlah pasangan suami istri yang mengajukan gugatan cerai rata-rata ada 15 pasangan per hari.

“Angka perceraian memang tinggi. Hingga per Agustus 20I4 sudah tercatat ada 217 cerai gugat (diajukan pihak perempuan) dan ada 83 cerai talak (diajukan pihak laki-laki),” kata Wildan kepada Koran Memo, Jumat (3/10).

Lebih lanjut dikatakan, faktor-faktor penyebab perceraian sendiri ada empat klasifikasi yakni klasifikasi moral, klasifikasi meninggalkan kewajiban, klasifikasi menyakiti jasmani dan klasifikasi terus menerus berselisih.

Dari empat klasifilasi, paling menonjol yakni klasifikasi terus menerus berselisih. Dalam klasifikasi ini, terdapat salah satu alasan yakni alasan tidak ada keharmonisan. Dari faktor alasan itu tercatat ada 114 kasus.

Sedangkan yang menjadi penyebab ke dua yakni dari klasifikasi meninggalkan kewajiban, yang didalamnya ada alasan ekonomi, dimana terdapat 79 kasus.

Sedangkan yang menjadi urutan ketiga masih dari klasifikasi meninggalkan kewajiban, yang di dalamnya juga ada alasan tidak ada tanggung jawab, yang mencatatkan jumlah 54 kasus. Sementara untuk hadirnya pihak ketiga malah menjadi penyebab yang keempat dengan 10 kasus.

Sedangkan yang terlibat dalam perceraian terdiri dari kalangan masyarakat umum, pegawai negeri dan anggota TNI / Polri. Kasus terbanyak dalam perceraian masih didominasi oleh masyatakat umum yang mencatatkan jumlah 70 persen. Urutan kedua melibatkan dari kalangan PNS sejumlah 20 persen dan kemudian dari kalangan TNI / Polri sebanyak 10 persen.

Untuk menekan angka perceraian, pihak PA terus bekerja sama dengan para ulama dan tokoh masyarakat untuk membina pasangan rumah tangga. Jika dibiarkan begitu saja, dikhawatirkan perceraian ini akan menjadi tren pasangan rumah tangga ketika mereka sedang mengalami perselisihan.

Selain itu hakim Pengadilan Agama juga tidak akan mudah mengabulkan gugatan cerai yang diajukan masyarakat. Bahkan sebisa mungkin hakim akan melakukan upaya mediasi agar pemohon mencabut gugatannya. (ag)