Alasan Tidak Perawan: Atlet Sea Games Asal Kediri Dicoret Dari Pelatnas, Mengadu ke Presiden

Kediri, koranmemo.com — Salah satu atlet cabang olahraga (cabor) senam dari Kota Kediri berinisial SS dicoret dari pemusatan latihan nasional (Pelatnas). Alasannya janggal. SS yang belum genap berusia 18 tahun dituding sudah tidak perawan.

Kabar tersebut diterima langsung oleh AY, ibunda  SS, sekitar satu minggu yang lalu. Padahal, selama dua bulan terakhir ini, SS sudah mengikuti Pelatnas untuk persiapan SEA Games 2019 di Manila, Filipina.Sebagai orang tua, AY sangat terkejut mendapat kabar tersebut. “Katanya, anak saya sering keluar malam, yang menjadi permasalahan adalah kabar jika anak saya sudah tidak virgin,” jelasnya.

Dari keterangan AY, sebelumnya SS sempat diinterogasi oleh tim pelatih dan disuruh mengaku jika pernah berhubungan badan. Meskipun sempat mengelak, akhirnya SS terpaksa mengaku karena merasa tertekan dengan pertanyaan dari tim pelatih.

SS sempat menelepon ke ketua tim pelatih dan menjelaskan duduk permasalahan yang dihadapi. Ketua tim pelatih sempat mengatakan jika hasil tes menyebutkan jika SS sudah tidak ‘virgin’. Padahal SS belum mengikuti tes. SS pun menjelaskan jika dirinya sanggup untuk mengikuti tes, namun dua pelatih di Gresik tidak melakukan tes tersebut.

Akhirnya, AY mendapat telepon dari tim pelatih untuk menjemput SS. Setelah menjemput, AY kembali mendapat telepon dari tim pelatih dan memberi arahan jika SS masih ingin berlatih. Akhirnya, AY memberanikan diri untuk menelepon ketua tim pelatih untuk meminta maaf serta menjelaskan jika SS masih ingin berlatih. Namun, ketua tim pelatih memberikan jawaban jika SS sudah tidak ‘virgin’.

Sontak AY terkejut. AY segera berangkat ke Surabaya untuk mencari dokter spesialis kandungan dan beberapa rumah sakit (RS), tapi mereka menolak dengan alasan status keperawanan adalah rahasia pribadi. Merasa bingung, AY kembali mendatangi RS Bhakti Dharma Husada (BDH), Surabaya, tapi saat itu RS sudah tutup.

AY kembali memberanikan diri untuk menghubungi tim pelatih dan meminta melakukan tes di Kediri, dan tim pelatih memperbolehkan. Di tengah perjalanan menuju ke Kediri, tim pelatih kembali menghubungi jika SS diperbolehkan mengikuti latihan. Keesokan harinya, AY mengantar SS. SS pun kembali berlatih dan mendapat beberapa nasihat dari tim pelatih.

Merasa tidak ada masalah, AY merasa lega bahkan setelah selesai latihan, SS kembali ke sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di salah satu SMA Negeri di Gresik. Namun, saat kembali ke Kediri, AY kembali menerima kabar jika ketua tim pelatih meminta surat keterangan (hasil tes). Akhirnya, AY mengajak SS kembali ke Kediri untuk melakukan tes di RS Bhayangkara Kota Kediri.

Hasil tes tersebut menyebukan bahwa SS masih perawan. Setelah hasil tes keluar, AY segera mengirim ke tim pelatih, namun dia kembali menerima telepon jika ketua pelatih menginginkan SS mengikuti tes di RS Petrokimia, Gresik. AY sempat menolak, karena SS sudah melakukan tes di RS Bhayangkara Kota Kediri dan menilai SS tidak terbukti seperti yang dituduhkan sebelumnya.

Tidak lama, AY mendapat pesan singkat bahwa tim pelatih sudah berusaha membantu, namun ketua tim pelatih belum mengizinkan SS untuk berlatih. Bahkan, tim pelatih menjelaskan jika SS sudah tidak bisa kembali berlatih dan tidak bisa bergabung di tim Jatim.

Dari peristiwa tersebut, pihak keluarga ingin mengembalikan nama baik karena SS sempat tidak masuk sekolah. SS masih merasa terkejut dan malu atas tuduhan yang menimpa dirinya. Bahkan ayahnya juga belum bisa menerima kabar tersebut. “SS juga memutuskan untuk tidak ikut berlatih, dia masih down,” ujar AY.

Mengenai kabar SS kurang disiplin saat mengikuti Pelatnas, keluarga juga merasa terkejut. Keluarga hanya melakukan kunjungan rutin setiap satu bulan sekali dan selama di Gresik, SS hidup secara mandiri. AY sebagai orang tua, menilai SS anak yang rajin karena sudah menggeluti cabor senam sejak duduk di bangku kelas 2 SD.

Prestasi yang ditorehkan SS membuat tim Jatim mengajak bergabung sehingga mulail kelas 4 SD dia bersekolah di Gresik sampai saat ini berada di kelas XII SMA. Hidup secara mandiri, tidak membuat SS patah semangat. Buktinya, 49 medali sudah dikumpulkan bahkan dia juga berhasil meraih medali perunggu pada ajang ASIAN School Games serta dua kali meraih penghargaan Satya Yasa Cundamani.

Sebenarnya pihak keluarga tidak mempermasalahkan jika SS dikeluarkan atas ketidakdisiplinan yang dilakukan. Namun, selama ini SS tetap mengikuti jadwal latihan tepat waktu, yang menjadi masalah mengapa ada tuduhan jika SS sudah tidak ‘virgin’.

Sementara itu, Kuasa Hukum keluarga AY, Imam Muklas menjelaskan, kasus yang menimpa salah satu atlet kebanggaan Jatim dan khususnya Kota Kediri, pihaknya menyampaikan pengaduan kejadian tersebut ke Presiden Republik Indonesia (RI), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan Persani.

Menurutnya, penyampaian pangaduan tersebut supaya kejadian yang menimpa SS tidak terjadi kembali. Selain itu, Imam ingin ada tindakan tegas dan ada investigasi yang dilakukan pihak internal Persani terkait pengelolaan serta pembinaan atlet. “Dalam hal ini, sebenarnya pihak keluarga menerima pemberitaan yang tidak layak, karena terkait virginitas,” tegasnya.

Sebelum menyampaikan pengaduan tersebut, Imam sudah melakukan klarifikasi kepada pihak terkait. “Di mana kami memperoleh informasi terkait virginitas bukan syarat utama terkait dengan apakah seorang atlet dapat menjadi perwakilan atlet di SEA Games atau tidak,” imbuhnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor : Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date