Ahli Virus Rusia Benarkan Virus Covid-19 Terbentuk Secara Alami

Share this :

Moskow, koranmemo.com – Seorang ahli virus Rusia membenarkan virus Covid-19 terbentuk secara alami. Pernyataan tersebut secara tidak langsung telah mendukung China dalam mempertahankan diri dari berbagai kritik yang mempertanyakan asal dari virus Covid-19.

Direktur Istitut Epidemiologi dan Microbiologi St. Petersburg, Alexander Semyonov mengatakan, sejumlah ahli yang mendukung teori konspirasi terkait terbentuknya virus Covid-19 berasal dari kecelakaan laboratorium tidak bisa memberikan cukup bukti. “Hal ini seperti berbicara mengenai antariksa dengan seorang yang mendukung teori bumi datar,” ujar Semyonov dikutip dari Xinhua, Rabu (22/4).

Lebih lanjut, dia menduga mereka yang mempercayai teori konspirasi tersebut hanya sedang mencari kambing hitam. Sehingga mereka bisa menutupi kelalaian mereka dalam menangani pandemi corona atau ketidak mampuan fasilitas medis mereka menangani hal ini.

Sebelumnya, pandemi corona disebabkan oleh virus Covid-19 yang pertama kali di temukan di Wuhan, China sejak pertengahan Desember tahun lalu. Virus yang menyebabkan gangguan pernapasan ini memiliki kemampuan untuk menyebar dengan sangat cepat. Dengan kemampuannya tersebut, virus ini menjadi sangat berbahaya dan mematikan karena belum ada obat dan vaksin yang bisa digunakan untuk melawan virus ini.

Berdasarkan penelitian mengenai asal dari virus ini, peneliti mengungkap virus ini ditularkan dari kelelawar pada manusia. Namun, akhir-akhir ini, sejumlah negara terutama Amerika Serikat (AS) mempertanyakan kebenaran hal ini, serta mempertanyakan transparansi data yang diberikan oleh China terkait kasus corona.

Sebuah teori yang menyatakan virus ini berasal dari laboratorium menguat, karena Wuhan memiliki fasilitas laboratorium virus yang termasuk kategori P4. Kategori ini menunjukan fasilitas tersebuk bisa digunakan untuk meneliti virus yang berbahaya dan hanya dimiliki oleh beberapa negara saja di dunia.

Saat ini, virus Covid-19 telah menyebar hampir di seluruh negara dan menyebabkan berbagai dampak yang harus ditangani. Berdasarkan data terbaru dari Universitas Johns Hopkins Rabu (22/4), jumlah kasus corona di dunia telah mencapai 2.564.190 kasus dengan 177.445 kematian.

Reporter: Ahmad Bayu Giandika

Editor: Della Cahaya