Agar Budaya Asli Tak Dijajah, Ini Cara Wabup Moch Nur Arifin

Trenggalek, koranmemo.com-Trenggalek Ethnic Carnival 2017 ajang untuk memupuk sadar budaya dan kecintaan terhadap khazanah nusantara para generasi muda agar tidak dijajah ataupun direbut bangsa lain seperti kasus diklaimnya kesenian reog Ponorogo oleh negara Malaysia beberapa tahun yang lalu.

Kemeriahan sajian dari warga Trenggalek tersebut telah digagas Bupati Trenggalek, Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak dan Wakilnya Moch Nur Arifin untuk tahun ke 2 masa kepemimpinannya dalam rangka HUT ke 72 Kemerdekaan RI sekaligus menyongsong HUT ke 823 Kabupaten Trenggalek.

Wakil Bupati (wabup) Trenggalek sempat menerima cindera mata dari peserta  SMAN 1 Trenggalek berupa miniatur kesenian khas Trenggalek yakni Jaranan Turonggo Yakso.
Sementara Bupati Trenggalek , Emil Elestianto Dardak sempat ditantang untuk menaiki “Dadak” Reog Ponorogo.

Beberapa kesenian yang ditampilkan diantaranya tarian khas Trenggalek Turangga Yaska, kesenian tiban, jaranan, pencak silat serta kesenian daerah dari berbagai penjuru nusantara dengan pentas menyusuri  Jl. Ronggo Warsito-Jl. RA. Kartini-Jl. Panglima Sudirman-Jl. Basuki Rahmat- Jl. Patimura- Jl.Jaksa Agung Suprapto- Jl. Diponegoro- Jl. Hos Cokroaminoto- Alun-Alun, kemudian finis di depan  Pendopo Manggala Praja Nugraha.

Wakil Bupati Trenggalek  Mochammad Nur Arifin tampak antusias untuk menyaksikan langsung jalannya pawai dari depan Pendapa Manggala Praja Nugraha. Wabup termuda se-Indonesia ini mengatakan ,ethnic Carnival itu merupakan perhelatan untuk yang kedua kalinya di Trenggalek.

“Diharapkan, dengan penampilan seni budaya itu, masyarakat semakin mencintai dan tetap melestarikan warisan budaya yang ada di Indonesia,”ucapnya, Minggu, (13/8) di Trenggalek.

Tampilnya kesenian khas Ponorogo menjadi catatan tersendiri bagi wabup dalam menyelaraskan budaya sebagai pondasi generasi muda agar selalu menggandrungi budaya yang menjadi jati diri bangsa ini.

“Toh masyarakat di sini selalu dekat dengan kesenian termasuk reog Ponorogo karena secara kultur memang masih bertetangga dengannya termasuk kesenian Reog Kendang yang asli dari kabupaten Tulungagung,”ungkapnya.

Berkesenian masih kata wabup, hendaknya memulai berwawasan serta melakukan tahapan regenerasi jika ingin budaya dan seni di Indonesia tidak memudar oleh modernisasi serta kemajuan tekhnologi kekinian.

“Jadi tidak hanya kesenian asli Trenggalek saja yang ditampilkan, tapi juga kesenian dari berbagai etnis dan daerah yang ada di Indonesia. Untuk tahun ini peserta dari kalangan masyarakat umum lebih banyak dibanding sekolah,” imbuhnya.

Sementara, ada pemandangan menarik dari event itu tatkala salah satu  komunitas kesenian Reog Ponorogo sempat meminta sang bupati dan wakilnya untuk naik ke kepala reog.

Bahkan Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak dua kali diminta untuk naik reog dari komunitas yang berbeda.
“Tegang juga lah apalagi harus dua kali naik, kalau dilogika agak sulit itu sebenarnya, orang bawa reog terus ngangkat kita diatas pasti berat, tapi ya itulah seninya reog,” katanya.

Reporter  : Puthut Purbantara
Editor       : Hamzah Abdillah

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.