ACI Turut Prihatin Kasus Penipuan Casting Kediri

Kediri, koranmemo.com –– Puluhan masyarakat Kota Kediri dan sekitarnya yang berkecimpung di dunia casting, berkumpul di Cafe Expo Kota Kediri untuk mengikuti sosialisasi casting yang diselenggarakan Association Casting of Indonesia (ACI), Rabu (7/8). Adanya sosialisasi ini sebagai bentuk keprihatinan ACI terhadap kasus penipuan yang berkedok casting sinetron “Sajadah Cinta’ hingga merugikan para korban ratusan juta rupiah.

Casting Director ACI, Sanca Khatulistiwa mengaku sosialisasi ini sebagai bentuk keprihatinan kepada masyarakat yang berkecimpug di dunia casting dan akting. Dia juga menjelaskan, bagaimana masyarakat harus lebih berjati-hati sebelum mengikuti casting sinetron maupun film. “Di sini, saya mencoba memberikan gambaran dunia casting itu seperti apa. Karena sempat kaget dengan adanya penipuan yang korbannya juga cukup banyak,” jelasnya, Rabu (7/8).Menurutnya, proses pembuatan film atau sinetron, para calon pemeran memang terlebih dahulu mengikuti casting untuk menentukan peserta tersebut sesuai karakter yang akan diperankan atau tidak. Selain itu, dari proses casting juga dapat menilai peserta, apakah mempunyai potensi di bidang aakting atau tidak.

Selama proses tersebut, lanjutnya, pihak penyelenggara memang menghubungi para agensi yang ada di daerah, dengan tujuan mencari peserta yang sesuai dengan sinetron atau film yang akan dibuat. Namun, para peserta tidak diwajibkan untuk membayar kepada pihak penyelenggara. “Nah ini yang perlu diketahui, selama proses casting dan shooting, tidak ada ditarik biaya. Bahkan untuk formulir pendaftaran casting pun gratis,” tuturnya.

Sanca mengatakan, memang jika ada informasi casting sinetron atau film, banyak menarik minat masyarakat untuk turut serta. Namun, ini yang justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab untuk meraup keuntungan. Seperti menjual formulir pendaftaran, menarik tarif untuk biaya selama proses casting dan shooting berlangsung.

Padahal, pihak penyelenggara sudah mempunyai anggaran dana selama proses tersebut dari investor ataupun kerjasama dengan iklan. “Ini yang sering dimanfaatkan dan ditambah janji yang menjamin bahwa peserta akan menjadi pemeran dalam judul sinetron atau film yang dibuat. Untuk meyakinkan para peserta, ada juga yang meyakinkan dengan memberikan janji palsu akan segara ditayangan di stasiun televisi atau bahkan bioskop,” imbuhnya.

Dengan adanya iming-iming dan janji yang diberikan kepada peserta casting yang sebagian besar berkeinginan untuk terlibat dalam pembuatan sinetron atau film, maka peserta akan dengan mudah percaya dan memberikan sejumlah dana. Terlebih lagi, jika penyelenggara memasang tarif per episode atau per paket episode.

Dari pengalaman selama berkecimpung di dunia casting dan akting, Sanca menilai kasus penipuan yang berkedok casting marak terjadi pada kurun waktu antara tahun 2000 sampai 2012. Tidak hanya terjadi di daerah atau kota kecil saja, tapi juga terjadi di beberapa kota besar di Indonesia. “Jangankan daerah, beberapa waktu lalu pihak dari Holiwood juga pernah tertipu. Mereka mendapat informasi akan nada open casting di Indonesia, tapi nyatanya tidak ada,” katanya.

Ditambahkan, bagi masyarakat yang ingin berkecimpung di dunia casting dan akting, harus benar-benar mengetahui latar belakang penyelenggara. Tidak sekadar menanyakan proyek yang sedang dikerjakan, tapi juga memeriksa apakah penyelenggara sudah pernah membuat karya yang diakui oleh Badan Perfilman Indonesia atau belum.

*Kedok yang Sering Digunakan

Sanca menjelaskan, dalam proses casting dan shooting sinetron yang benar-benar untuk produksi, memang sering menjadi incaran para oknum untuk mencari keuntungan. Misalnya, di salah satu daerah digunakan untuk lokasi shooting film atau sinetron, dan setelah selesai proses tersebut ada agensi yang melakukan open casting dengan judul film atau sinetron yang berbeda.

Dengan demikian, masyarakat akan tertarik untuk mengikuti proses casting tersebut tanpa berpikir panjang. Padahal, langkah paling sederhana untuk mengetahui agensi atau penyelenggara benar-benar dalam proyek atau hanya ingin meraup keuntungan, dapat diperiksa melalui internet. “Apakah nama agensinya sudah ada atau belum, karya apa saja yang sudah diproduksi, itu bisa dilihat di internet,” ucapnya.

Selain itu, masyarakat diimbau tidak langsung percaya meskipun penyelenggara melibatkan artis ibu kota atau mengatasnamakan agensi yang sudah terkenal. Masyarakat dapat memeriksa di situs FilmIndonesia.or.id, jika tidak ada karya dari agensi atau penyelenggara, bisa dipastikan bahwa proses tersebut palsu.

Memang dalam dunia casting dan akting dewasa ini, lanjutnya, mulai banyak bermunculan. Sanca berharap, masyarakat lebih kritis dan berhati-hati jika ada tawaran atau open casting. Apabila agensi tersebut memang benar mempunyai proyek, tidak akan mudah memberikan janji kepada peserta casting. Karena, setiap sinetron atau film yang diproduksi, meskipun masuk dalam data perfilman Indonesia, namun tidak semua karya dapat ditayangkan.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor :  Achmad Saichu