Abaikan Ketentuan Ajaran Baru Saat Pandemi, Dua Sekolah di Tulungagung Dapat Teguran

Tulungagung, Koranmemo.com – Dua sekolah di Tulungagung dapat teguran dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) setempat. Pasalnya, sekolah setingkat menegah pertama itu dinilai mengabaikan protap protokol kesehatan pencegahan pandemi Covid-19. Dua sekolah itu nekat menghadirkan peserta didik ke sekolah dengan berbagai alasan.

Padahal sebelumnya, memasuki tahun ajaran baru 2020/2021 dinas terkait telah menerbitkan surat edaran tentang pelaksanaan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) secara daring. Pemerintah setempat belum memperbolehkan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah karena Kabupaten Tulungagung masih masuk zona oranye penyebaran pandemi Covid-19.

“Ada dua sekolah tadi. SMP 2 Tulungagung dan SMP Al Azhar. Tapi yang SMP 2 Tulungagung kelas IX, bukan kelas XII, tadi acara pembagian raport. Meskipun demikian tidak boleh menghadirkan banyak siswa ke sekolah di masa pandemi, tadi sudah kami berhentikan. Termasuk tadi yang Al Azhar sudah kami panggil,” kata Plt Disdikpora Tulungagung, Haryo Dewanto.

Disdikpora, kata Haryo sudah memanggil pihak sekolah yang dinilai abai tersebut. Merujuk keputusan menteri bersama, KBM bakal dilakukan secara daring hingga daerah tersebut memasuki zona hijau penyebaran pandemi Covid-19. Meskipun sudah memasuki zona hijau, KBM dengan menghadirkan banyak siswa dilakukan bertahap dan melalui prosedur yang ketat.

“Tadi sudah saya panggil, saya tunjukkan dasar hukumnya. Katanya sudah dapat izin dari Dinas Kesehatan, saya konfirmasi ke Dinas Kesehatan katanya tidak mengizinkan. Merujuk keputusan menteri bersama, Mendagri, Menkes, Menag, dan Mendikbud kalau belum zona hijau KBM masih dilakukan secara daring. Termasuk MPLS hari ini,” kata Haryo.

Selain daring, Haryo menyebut di beberapa daerah khususnya yang sulit terjangkau sinyal menerapkan metode luring. Selain metode daring, sebagian KBM di Tulungagung menerapkan metode luring. Teknis pelaksanaan KBM itu diserahkan kepada masing-masing sekolah.

“Kalau daerah perkotaan sudah daring semua, tetapi kalau di daerah pedesaan bisa juga pakai luring. Mayoritas untuk anak sekolah dasar pakai luring, orang tua murid di panggil ke sekolah untuk diberikan materi, jadi modul diserahkan orang tuanya,” pungkasnya.

Reporter : Cahyo Syamhuda
Editor     : Achmad Saichu