42 Desa di Trenggalek Dilanda Bencana Kekeringan, Sumur dan Embung Mengering

Trenggalek, koranmemo.com – Bencana kekeringan di Kabupaten Trenggalek semakin meluas. Hingga saat ini setidaknya sebanyak 42 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Trenggalek dilanda bencana kekeringan. Jumlah desa yang terdampak kekeringan itu diperkirakan bakal meluas seiring puncak musim kemarau.

Triadi Atmono, plt Dinas Kominfo Kabupaten Trenggalek mengatakan, jumlah desa yang terdampak kekeringan itu mengalami peningkatan. Sebelumnya sebanyak 15 desa dilaporkan kekurangan air bersih akibat musim kemarau. “Kelihatannya dari 15 yang kemarin sehingga meluas kevbeberapa desa yang saat ini sedang mengalami kekeringan,” jelasnya, Selasa (2/10).

Pria yang juga menjabat sebagai Kabag Protokol dan Rumah Tangga Pemkab Trenggalek itu menyebut, saat ini pemerintah daerah sudah mengirimkan bantuan air bersih di puluhan desa yang terdampak kekeringan. Sebab dalam satu desa itu, terdampak kekeringan di beberapa titik. “Bupati sudah berkoordinasi berkaitan pendistribusian, pengiriman bantuan air kepada beberapa desa tersebut,” katanya.

Triadi menyebut, pengiriman air bersih di beberapa desa terdampak kekeringan tak sepenuhnya berjalan dengan mulus. Sebab, terdapat beberapa lokasi yang sulit dijangkau petugas saat melakukan pendistribusian. “Beberapa titik saat ini tengah dilakukan kajian untuk memudahkan pendistribusian karena beberapa desa yang terdampak kekeringan ini kelihatannya semakin meluas,” pungkasnya.

Dampak kemarau panjang mengakibatkan debit air sejumlah embung di Kabupaten Trenggalek menyusut. Akibatnya puluhan hektare sawah mengering sehingga berpotensi gagal panen. Kemarau panjang juga mengakibatkan krisis air bersih di Kabupaten Trenggalek.

Pengamatan di lapangan sejumlah embung di Kabupaten Trenggalek terlihat mengering dan tidak dapat difungsikan. Misalnya Embung Tambong di Desa/Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek. Embung yang sedianya dapat mengaliri puluhan hektar sawah itu terlihat mengering dan hanya menyisakan air dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. “Kalau sudah seperti ini tidak bisa difungsikan,” kata Imam Makruf, warga sekitar.

Warga RT 08/RW 04 Desa/Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek, yang juga sebagai petugas penjaga embung Tambong menambahkan, menyusutnya debit air embung itu sudah terjadi kisaran dua bulan silam. Kondisi ini lantaran sumber mata air untuk menyuplai embung itu banyak dialiri pipa warga. “Seharusnya diatasi (sumber air,red) itu dibangun penampung. Jadi sebagian bisa untuk suplai embung, sebagai bisa ke warga,” kata dia.

Sebab, kata Makruf, jika kondisi ini terus dibiarkan warga yang tinggal di bawah embung tak bisa mendapat suplai air, baik untuk air minum maupun untuk pengairan sawah. Akibatnya puluhan sawah hektar mengering dan tak dapat difungsikan untuk bercocok tanam. “Otomatis dibiarkan begitu saja (sawah,red). Mau diganti tanaman apapun, mana bisa tumbuh kalau tidak mendapatkan air sama sekali. Jadi bisa dibilang seperti tanaman musiman,” kata dia.

Makruf menyebut, sejak embung itu dibangun pada 2013 lalu, krisis suplai air bersih menjadi ‘langganan’ yang terjadi setiap musim kemarau. Dia memprediksi embung itu bisa difungsikan normal saat musim hujan turun, kisaran November-Desember mendatang. “Kalau normalnya bisa mencapai kedalaman lebih dari tujuh meter. Kalau saat ini untuk air minum pun tak layak,” ujarnya sembari menunjukkan lokasi puluhan hektar sawah yang mengering.

Selain di Embung Tambong, kondisi serupa juga terjadi di Embung Suruh. Terlihat gundukan tanah di area embung mengering hingga terjadi retakan-retakan tanah kecil di sekitar lokasi. Banyak pipa di sekitar embung  yang terlihat pecah dan tak terpakai, sebab untuk mendapatkan suplai air memanfaatkan gaya gravitasi. Suruh menjadi salah satu embung di Kabupaten Trenggalek yang terdampak kekeringan saat musim kemarau. Kondisi serupa juga terjadi di beberapa embung lainnya. “Kalau menggunakan diesel, nanti juga tidak merata (pembagiannya,red),” pungkasnya.

Malam, warga Desa Karanganyar Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek menyebut, kondisi serupa juga terjadi di rumahnya. Dia mengaku kesulitan air bersih karena sumber mata air di rumahnya mengering. “Sumur-Sumur disini sudah mengering total, sudah sekitar tiga bulan lalu,” ujarnya sembari menunjukkan lokasi sumur rumahnya.

Untuk mencukupi kebutuhan suplai air, dia harus menempuh jarak sekitar setengah kilo guna mengambil air dari sungai. Namun kondisi air sungai juga kerap kali mengering dan tak layak digunakan khususnya ketika musim kemarau. Bahkan dia menyebut tak sedikit warga yang terpaksa membeli air bersih di luar daerah. “Kadang air di sungai sudah kering dan layak minum,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date