4 SMP di Trenggalek Resmi Lakukan Pembelajaran Daring dan Luring

Share this :

Trenggalek, koranmemo.com – Pembelajaran perpaduan daring dan luring resmi diterapkan di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek (15/8). Ada empat sekolah menengah pertama (SMP) yang menjalankan program gabungan daring (jarak jauh atau dalam jaringan) dan luring (tatap muka) yaitu SMPN 1 Watulimo, SMPN 2 Watulimo, SMPN 3 Watulimo dan SMP Islam Watulimo.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan,  kebijakan ini dilakukan untuk mengatasi permasalahan belajar mengajar siswa pada saat pandemi Covid – 19. Apalagi jika rumahnya pelosok, siswa kesulitan mengikuti daring karena masuk daerah blank spot.

”  Ini merupakan percontohan kita melaksanakan mix learning, kita akan mulai pembelajaran tatap muka efektif mulai hari ini kita resmikan (15/7). Dan besok Selasa (18/8), SMP sederajat di Kec. watulimo untuk kali pertama akan menggelar pembelajaran tatap muka secara mix learning, ” jelasnya.

Dikatakan, di Kabupaten Trenggalek ada 28 desa masuk daerah blank spot. Nantinya jika setelah diberlakukan pembelajaran gabungan ini, diharapkan siswa bisa mengikuti pembelajaran dengan baik, tanpa mengesampingkan protokol kesehatan.

Pemberlakuan pembelajaran gabungan ini  masih tingkat SMP. Tingkat SMP dinilai sudah bisa memahami aturan protokol kesehatan, sehingga bisa menjadi contoh bagi adik kelasnya di jenjang sekolah dasar atau sederajat.

Masih menurut mas Ipin, Tujuannya ada dua, pertama memastikan pendidikan ini inklusif, karena tidak semuanya  punya Internet, HP, laptop, tidak semua mampu mencukupi atau membeli. Sehingga dengan adanya tatap muka, diharapkan semua siswa nanti bisa mengikuti pembelajaran keseluruhan.

Tujuan kedua,melakukan internalisasi protokol kesehatan atau mungkin di rumah tidak ada yang mendisiplinkan terkait protkol kesehatan.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Trenggalek Totok Rudjianto mengungkapkan, sangat mendukung program gabungan daring dan luring. Program yang digagas Bupati Trenggalek ini merupakan terobosan bagi siswa pada saat menghadapi kendala belajar saat pandemi Covid – 19.

” Saya sejalan dengan pemikiran Bupati Trenggalek, jadi untuk durasi waktu untuk masing – masing  kelompok siswa yang mengikuti, itu maksimal 2 jam pembelajaran tatap muka. Jadi untuk satu kelas kita bagi 3. 10 siswa melakukan luring, dan 20 siswa melakukan pembelajaran di rumah secara daring. Itu secara bergiliran, ” jelasnya.

Lanjut Totok, masalah protokol kesehatan, sudah lakukan peninjauan di lapangan dengan GTPP Covid – 19 tingkat desa hingga kabupaten untuk memastikan masing2 sekolah itu sudah siap protokol kesehatannya. Mulai tempat cuci tangan pakai sabun, masker yang tersedia, dan juga pakai pelindung muka.

Utamanya, semua siswa yang mengikuti pembelajaran luring, ini telah mendapatkan izin dari orang tua. Dan ada komitmen dengan komite dan sekolah, terkait persetujuan untuk melakukan pembelajaran dengan pola luring.

Reporter : Dias Ahmad Farid
Editor      : Achmad Saichu