4 Relawan Peace Corps dari Amerika Serikat

Share this :

“Kami Cinta Indonesia,Kami Cinta Kediri”

Kediri,Memo – Mereka berempat datang dari negeri Paman Sam.  Jauh-jauh datang ke Indonesia untuk berbagi ilmu dengan penduduk negeri ini.  Jika sebelum datang ke Indonesia yang dulu mereka kenal hanya Pulau Bali, pada kedatangan mereka kali ini, mereka diajak  mengenal satu kota yang masih asing bagi mereka, yakni Kota Kediri.  Di tengah cuaca panas pelataran sport center STAIN Kediri, 4 pemuda penuh semangat ini mulai bercerita, tentang mimpi mereka, dan mengapa mereka memilih Indonesia.

Dari kiri: Samantha Coralles, Taylor Fox, Seamus Doyle, dan Patrick Slutter (della/memo)
Dari kiri: Samantha Coralles, Taylor Fox, Seamus Doyle, dan Patrick Slutter (della/memo)

Patrick Slutter, Seamus Doyle, Samantha Corrales, dan Taylor Fox.  Mereka adalah 4 dari 72 warga Amerika Serikat yang datang ke Indonesia untuk menjadi relawan dari Peace Corps, sebuah lembaga independen Pemerintah Amerika Serikat yang menyediakan relawan untuk negara-negara pengundang di seluruh dunia.  Di usia mereka yang  masih 23 tahun, mereka memiliki visi yang sama, yakni melakukan sesuatu untuk dunia, sebelum mereka semakin tua dan tak lagi bisa melakukan apa-apa.

Mengapa Indonesia?   Satu pertanyaan itu mungkin yang paling sering mereka dengar, baik dari keluarga maupun teman-teman mereka.  Jawaban yang diberikan oleh mereka pun juga berbeda-beda.  Karena meskipun mereka seusia dan memiliki visi yang sama, namun pada dasarnya mereka berempat memiliki kepribadian yang sangat berbeda.

Misalnya Patrick Slutter atau biasa dipanggil Patrick.  Alasannya memilih Indonesia adalah karena Indonesia memiliki banyak gunung dan pantai dengan ombak yang asyik untuk berselancar.  Cocok dengan dirinya yang memang sedari dulu memiliki hobi untuk naik gunung dan berselancar.  “Saya tahu Indonesia memiliki banyak gunung yang masih alami dan indah.  Sebagai pecinta alam, saya juga ingin mencoba mendaki gunung yang ada di Indonesia ketika saya memiliki waktu luang nanti.  Jadi selain saya bisa melakukan hal yang berguna bagi masyarakat Indonesia, saya juga bisa menyalurkan hobi saya,” ujar Patrick.

Lain lagi dengan Seamus Doyle.  Pria yang mengaku hobi menulis ini memilih Indonesia karena dia mendengar jika penduduk Indonesia ramah dan terbuka dengan pendatang.  Dia adalah seseorang yang introvert.  Karena itu dia merasa lebih nyaman jika dia bisa berkunjung ke negara yang warganya bisa memulai percakapan dengannya terlebih dahulu.  “Setelah saya datang ke Indonesia, bertemu dengan warga di Kediri, apa yang saya dengar bukanlah omong kosong belaka.  Warga Kediri benar-benar orang yang baik,” tutur Seamus.

Yang paling menarik datangnya dari Taylor Fox.  Wanita yang berasal dari California ini datang ke Indonesia karena dia melihat Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbanyak.  “Meskipun saya tidak memeluk agama Islam, namun saya mengambil jurusan tentang agama Islam di kampus saya.  Dan dari situ saya jatuh cinta pada agama ini, dan ingin melihat langsung bagaimana Agama Islam diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Taylor.

Ketika tiga rekannya memang memilih untuk datang ke Indonesia, Samantha Coralles berbeda.  Dia sama sekali tidak ada niat untuk datang ke Indonesia.  Dia mendaftar di program ini, dan pasrah saja kemana Peace Corps akan meletakkannya.  Dia juga sama sekali tidak ada bayangan tentang bagaimana Indonesia itu.  Namun setelah dia sampai di sini, dia sangat bersyukur dia diletakkan di sini.  “Orangnya ramah-ramah, banyak hal menarik yang belum pernah saya lihat sebelumnya, dan yang paling penting masakannya enak-enak,” ujar wanita yang mengaku sangat menyukai sate ayam ini.

Meskipun memiliki jawaban yang berbeda-beda, namun sebenarnya ada satu benang merah yang menghubungkan jawaban mereka.  Indonesia adalah negara yang kaya, baik budaya, dan keindahan alamnya.  Keramahan dan kebaikan penduduknya merupakan bonus yang membuat mereka betah berada di Indonesia, lebih tepatnya di Kota Kediri.  Namun yang mereka berempat sayangkan adalah, penduduk Indonesia terkadang tidak sadar apa yang mereka miliki.

“Indonesia adalah negara yang kaya.  Karena terlalu kayanya, penduduknya sampai tidak sadar apa yang mereka miliki sendiri.  Hasilnya, banyak yang justru menyia-nyiakannya.  Mereka ingin berkunjung ke negara orang untuk melihat apa yang sebenarnya mereka miliki.  Misalnya saja sungai.  Di Indonesia ada ribuan sungai, tapi mereka justru menghabiskan puluhan juta hanya untuk melihat Sungai Rhein di Jerman,”   tutur Samantha.

Mereka berempat berharap, kedatangan mereka ke Indonesia ini selain bisa membantu para penduduk Indonesia untuk lebih mengenal Bahasa Inggris, juga membuat penduduk Indonesia sadar bahwa mereka beruntung telah lahir di negara ini.  “Dari kami mereka hanya akan mendengar betapa kami mencintai negara ini.  Hanya 2 minggu kami di sini, kami merasa sudah tak bisa lepas dari negara ini, dari kota ini.  We love this country, especially this city, Kediri,” ujar Seamus yang diikuti oleh anggukan mantap dari ketiga rekannya.  (della cahaya)