4 Kawanan Pencuri Hewan Bermobil Ditangkap, 1 Ditembak

Tulungagung, koranmemo.com -Kawanan spesialis pencuri hewan ternak kambing yang telah beraksi di tujuh lokasi berhasil dibekuk tim gabungan dari Polsek Ngantru dan Polres Tulungagung pada Rabu (21/8) pagi. Bahkan, satu pelaku terpaksa dilumpuhkan kaki kirinya lantaran mencoba melarikan diri saat diamankan.

Keempat pelaku tersebut yakni Bahrur Roji (26), Prasetyo Widodo (19) warga Desa Pojok, Kecamatan Ngantru, Hartoyo alias Domo (35), dan Mohammad Choirul Anwar (22) warga Desa Jaten Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar.

Dari keempat pelaku, polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa 3 ekor kambing hasil kejahatan, sebuah tang, dua buah tali pengikat kambing, sepucuk senapan angin yang dibeli dari hasil uang kejahatan, dan sejumlah uang sebesar Rp 1.977.000.

“Karena salah satu tersangka mencoba melarikan diri saat diamankan, terpaksa petugas melakukan tindakan yang terukur,” tegas Kapolres Tulungagung AKBP Tofik Sukendar melalui Kani Pidum Iptu Ipung Herianto.

Dijelaskan, terungkapnya kasus pencurian kambing tersebut bermula dari laporan salah satu korban yakni Mukaryanto (54) warga Desa Rejoagung Kecamatan Kedungwaru ke Polres Tulungagung beberapa waktu yang lalu. Dalam laporannya, korban mengaku kambingnya telah dicuri.

“Setelah kami meminta keterangannya, ternyata modusnya sama dengan dua kejadian di wilayah Kecamatan Ngantru,” imbuhnya.

Berbekal keterangan tersebut lanjut Ipung, pihaknya langsung melakukan penyelidikan. Satu persatu korban dan sejumlah saksi langsung diminta keterangannya. Hasilnya, diduga kuat modus dan pelakunya adalah orang yang sama.

“Setelah mendapatkan ciri-ciri pelaku, kami langsung sebarkan ke seluruh unit,” katanya.

Gayung pun bersambut, petugas akhirnya berhasil mendeteksi pelaku yang pernah menjual kambing hasil curiannya di pasaran hewan masuk Desa Beji Kecamatan Boyolangu. Setelah diselidiki, ternyata orang yang dimaksud adalah Bahrur Roji.
“Tak mau kecolongan, petugas langsung mendatangi rumahnya di Desa Pojok.”

Masih menurut Ipung, awalnya Bahrur Roji mengelak tuduhan petugas. Namun karena petugas menemukan barang bukti berupa tiga ekor kambing di rumahnya, akhirnya iapun mengakuinya.

“Jadi uang hasil penjualan kambing dibelikan kambing lagi oleh Bahrur Roji. Termasuk satu senapan angin,” terangnya.

Dijelaskan, dari penangkapan Bahrur Roji akhirnya tiga pelaku lain secara berurutan yakni Mohammad Choirul Anwar, Hartoyo alias Domo, dan Prasetyo Widodo berhasil diamankan. Bahkan, petugas terpaksa melumpuhkan kaki kiri Hartoyo alias Domo karena mencoba melarikan diri.
“Keempat pelaku diamankan di rumah masing-masing,” katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, diduga kuat otak kawanan spesialis pencuri kambing tersebut adalah Hartoyo alias Domo. Adapun modus yang dilakukan, mereka menentukan target dengan cara berkeliling dengan mengendarai mobil rentalan. Setelah target ditentukan, keempatnya kembali ke lokasi pada malam hari.

“Yang berperan sebagai sopir secara bergantian yakni Bahrur Roji dan Hartoyo. Sedangkan Prasetyo Widodo dan Mohammad Choirul sebagai eksekutor,” terangnya.

Keempatnya juga memanfaatkan ponsel masing-masing untuk berkomunikasi. Selain itu, masing-masing juga bertugas memantau situasi lokasi untuk memastikan benar-benar aman.

“Untuk mengantisipasi agar kambing tidak berteriak, mereka memegang/menekan leher kambing sambil menepuk-nepuk pantat kambing,” jelasnya.

Dari hasil pengakuan keempat tersangka, selama ini mereka telah beraksi di tujuh lokasi yakni di Desa Rejoagung Kecamatan Kedungwaru mencuri seekor kambing, Kelurahan Sembung Kecamatan Tulungagung dua ekor kambing, Desa Pulerejo dua ekor kambing, Desa Batokan dua ekor kambing, Desa Bendosari seekor kambing, Desa Kepuhrejo seekor kambing, dan Desa Mojoagung Kecamatan Ngantru dua ekor kambing.
Ditambahkan, kini keempat pelaku masih menjalani serangkaian pemeriksaan. Pihaknya, juga masih mengembangkan apakah ada pelaku maupun korban yang lain.

Atas perbuatannya, mereka bakal dijerat dengan pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Reporter Yoppy Sandra Wijaya

Editor Achmad Saichu

 

Follow Untuk Berita Up to Date