20% Petani di Trenggalek Tinggalkan Pupuk dan Pestisida Kimia

Trenggalek, Koranmemo.com – Penggunaan pupuk dan pestisida kimia mulai ditinggalkan para petani di Kabupaten Trenggalek. Mereka berangsur-angsur mulai menggunakan pupuk dan pestisida organik. Sedikitnya lebih dari 20 persen petani di Trenggalek mulai menggunakan pupuk dan pestisida. Meskipun belum masih penggunaan itu hampir merata di 14 kecamatan di Trenggalek.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin menargetkan, penggunaan pupuk dan pestisida organik bertambah hingga 40 persen pada tahun depan. Ia mengklaim penggunaan pupuk dan pestisida organik mulai dikenal banyak kalangan petani. “Hampir 20 persen, tersebar di Kecamatan Suruh, Dongko, Gandusari, kemudian Durenan,” ujarnya saat acara labuh tani di Taman Agro Park, Rabu (4/9).Penggunaan pupuk dan pestisida organik, lanjut Mas Ipin lebih menguntungkan ketimbang penggunaan bahan yang mengandung kimia. Oleh sebab itu ia ingin penggunaan pupuk dan pestisida organik dapat dilakukan secara masif. “Jadi untuk menekan biaya produksi. Petani tidak bergantung harga pupuk di pasaran,” kata dia.

Para petani diajarkan membuat pupuk dan pestisida organik dengan mendatangkan penyuluh dan kelompok tani di acara labuh tani. Labuh tani itu memanen berbagai tanaman yang dikonsep secara terpadu. “Nantinya bisa diambilkan dari petani kita yang menggunakan pupuk organik itu. Misal rumah sakit kan harus menyediakan makanan sehat untuk pasien dan lain sebagainya,” pungkasnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Trenggalek, Agung Sudjatmiko mengatakan, penggunaan pupuk dan pestisida cair itu terbilang efektif. Produk ramah lingkungan itu sudah diuji coba di Taman Agro Park Trenggalek. “Memang penggunaannya tidak bisa langsung, bertahap. Yang sudah menggunakan pupuk cair sekitar 10 persen,” ujarnya.

Dalam kegiatan labuh tani dilakukan panen sayur mayur, lombok, padi dan buah. Selain itu juga sekaligus dilakukan penanaman kembali lahan yang kosong. “Lahan sawi dengan petak kecil menghasilkan Rp 1 juta, pengunjung diperbolehkan memetik sawi dengan mengganti uang Rp 500 rupiah per batangnya dan lombok Rp 150 rupiah per buahnya,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date