11 Lembaga untuk Murid Inklusi

Kediri, koranmemo.com Sebanyak 11 lembaga pendidikan di Kota Kediri jenjang sekolah dasar (SD) Negeri dan sekolah menengah pertama (SMP) Negeri, mempunyai kelas inklusi. Dengan demikian, diharapkan siswa berkebutuhan khusus dapat memperoleh hak dalam bidang pendidikan, sekaligus membiasakan siswa untuk berkomunikasi dengan siswa yang lain. Selain itu, siswa inklusi tidak minder dengan kekurangan yang dimiliki.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar (Dikdas), Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri, Ibnu Qoyim mengatakan, siswa yang masuk ke dalam kelas inklusi, mental mereka akan dibentuk sehingga terbiasa berkomunikasi dengan orang lain. “Supaya mereka tidak merasa minder dan terus menutup diri dengan kondisi yang memang lebih spesial dari pada siswa reguler,” jelasnya, Minggu (31/3).

Bukan hanya mental, lanjutnya, siswa inklusi diharapkan mendapat hak yang sama dan terlayani dengan baik sehingga sejajar dengan siswa reguler. Memang dalam praktiknya, siswa inklusi harus mendapat pendampingan khusus, namun kemampuan akademis mereka tidak kalah dengan siswa reguler. Karena, sebagian siswa hanya mengalami kesulitan pada segi motoriknya, dan dapat bersaing dengan siswa yang lain.

Dari 11 lembaga sekolah tersebut, delapan diantaranya adalah lembaga pendidikan jenjang SD, dan tiga lainnya jenjang SMP. Lembaga SD yaitu SD Negeri Burengan V, SD Negeri Banjaran IV, SD Negeri Semampir IV, SD Negeri Balowerti I, SD Negeri Ngronggo VII, SD Negeri Rejomulyo, SD Negeri Sukorame II, SD Negeri Mrican I, dan SD Negeri Bandar Kidul II.

Sedangkan jenjang SMP yaitu SMP Negeri V, SMP Negeri I, dan SMP Negeri VIII. Siswa yang akan mendaftar ke sekolah inklusi, sambungnya, harus melampirkan surat keterangan dari psikolog. “Mengapa demikian, karena untuk mempersiapkan guru pendamping untuk siswa tersebut. masing – masing siswa, meskipun masuk ke kelas inklusi, tapi penanganan serta kebutuhan mereka berbeda,” sahutnya.

Guru pendamping siswa inklusi juga tidak sembarangan, sambungnya, mereka harus mempunyai latar belakang psikolog. Bisa lulusan kuliah dari fakultas psikolog atau masiswa dari bidang yang sama, pihak Disdik akan bekerja sama sehingga siswa inklusi akan mendapat guru pendamping yang cukup, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Menurut Ibnu, dengan adanya kelas inklusi, tidak hanya memberikan fasilitas serta sarana dan prasana (sarpras) bagi siswa inklusi. Namun, memberikan dampak yang positif bagi siswa reguler, misalnya pada pendidikan karakter. “Harapan kami, siswa reguler juga bisa membantu teman yang lain, dan saling menghargai serta tidak membeda-bedakan teman,” ujarnya.

Selain itu, diharapkan orang tua juga mampu menerima kekurangan anak. Pasalnya, pendidikan anak menjadi hak yang harus dipenuhi untuk bekal di kemudian hari. Orang tua yang memahami kekurangan anak, tidak menilai bahwa kekurangan mereka menjadi hal yang tabu, tapi harus mendapat arahan supaya siap menghadapi tantangan di masa depan ketika mereka sudah beranjak dewasa.

Reporter Okpriabdhu Mahtinu

Editor Achmad Saichu