10 Tahun Gunakan Lampu Ublik, Nenek Sebatang Kara Dapat Bantuan Solar Cell dari Polres Trenggalek

Share this :

Trenggalek, koranmemo.com – Wajah sumringah terlihat dari raut muka Sarmi warga RT 65/RW 18 Dusun Sidem Desa Jombok Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek. Pasalnya, saat ini nenek berumur 60 tahun yang tinggal sebatang kara ini memiliki penerangan listrik di rumahnya, setelah hampir 10 tahun menggunakan penerangan manual atau ‘ublik’. Penerangan listrik ini diberikan Kepolisian Resort Trenggalek melalui bantuan solar cell.

Kapolres Trenggalek, AKBP Didit Bambang Wibowo S mengatakan, bantuan solar cell ini merupakan implementasi program SERU (Seribu Rupiah) atau pengumpulan dana yang dilakukan seluruh anggota mulai tingkat polsek jajaran hingga polres, seminggu dua kali. “‌Program Seru, menyisihkan uang 1000 seminggu dua kali pada hari Senin dan Jumat. Iuran ini dilakukan mulai dari tingkat Polsek dan Polres,” ujarnya sesuai menyerahkan bantuan solar cell, Rabu (30/1).

Solar cell ini, lanjut Kapolres, merupakan bantuan kedua yang sebelumnya disalurkan Polres Trenggalek. Dengan bantuan ini, Kapolres Trenggalek berharap dapat meringankan beban warga yang kurang mampu. “‌Masyarakat yang tidak mampu, misalnya nenek janda tua, kondisi rumah belum terpasang listrik dan kriteria lainnya. Kami juga telah bersinergi dengan Baznas dan Pemda juga,” kata Didit.

Aiptu Widarto, Kasitipol Polres Trenggalek menyebut, solar cell ini cukup untuk menerangi rumah Sarmi, penerima bantuan kedua Polres Trenggalek. Namun listrik yang dihasilkan solar cell ini belum mampu untuk mensupport sejumlah perlengkapan elektronik lainnya. “Misalnya untuk air conditioner (AC), Kulkas, dan perlengkapan berat lainnya belum bisa mensuport. Untuk sementara masih bisa digunakan untuk penerangan lampu,” ujarnya di lokasi.

Dia menyebut, solar cell memanfaatkan tenaga surya yang diubah menjadi arus Direct Current (DC) melalui regulator penyearah arus yang sudah dimodifikasi. Nantinya arus itu akan ditampung dalam aki yang diisi secara otomatis menggunakan panel surya. Solar cell ini nantinya mampu menampung daya hingga tiga hari mengingat saat ini memasuki musim hujan. “Tiga hari bisa menyimpan, sekitar daya 500 watt yang dihasilkan dari solar cell,” imbuhnya.

Sementara itu untuk perawatan solar cell, kata Aiptu Widarto juga tidak terlalu rumit dan bisa dilakukan semua pihak. Misalnya terkait pembersihan panel hingga pengisian air aki. “‌Perawatannya hanya mengecek air aki dan membersihkan solar panel. Karena daya penyimpanan arus listrik ini di aki itu tadi, jadi jangan sampai air akinya habis,” ujarnya usai memasang solar cell di rumah Sarmi.

Sarmi, perempuan berumur 60 tahun yang tinggal sebatang kara di rumah berukuran sekitar 4×6 meter tak henti-hentinya mengucap syukur. Dia tak kuasa menahan haru menerima bantuan dari Polres Trenggalek. “Remen mas, kulo teng mriki piyambak. Bojo kulo mpun sedo, kulo nggih mboten gadah anak (seneng mas, saya disini tinggal sendiri. Suami saya sudah meninggal dan saya tidak mempunyai anak,red),” kata Sarmi kepada Koranmemo.com di lokasi.

Sarmi mengaku sekarang tak kerepotan dengan adanya bantuan penerangan listrik ini di usianya yang semakin menua. Sebelumnya dia mengaku hampir 10 tahun menggunakan penerangan manual atau ublik. “Kulo teng mriki mpun 10 tahun damel ublik (saya tinggal disini sudah 10 tahun menggunakan penerangan ublik,” kata Sarmi sembari menyebut sebelumnya juga pernah difasilitasi saudaranya bantuan listrik non permanen.

Jangankan untuk memasang listrik, Sarmi mengaku harus membanting tulang untuk mencukupi hidupnya. Setiap harinya dia harus berjalan sejauh hampir tiga kilometer untuk bekerja di sawah. “Kulo namung buruh mas, nggeh ndangir ngoten (saya namun buruh mas, kerja disawah,red),” pungkasnya sembari menyebut setahun lalu dia baru menerima bantuan bedah rumah.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu