Zainul Arifin, PNS yang Jago Selam

Kediri, Koran Memo – Hobi menyelam sampai saat ini sangat jarang dilakukan orang. Salah satunya karena menyelam memiliki resiko yang sangat tinggi sekaligus membutuhkan biaya yang tidak murah. Akan tetapi, tidak diragukan, menikmati keindahan alam bawah laut merupakan bentuk keasyikan tersendiri. Tak heran, banyak penyelam yang tetap melakukan hobi berbahayanya tersebut meski memiliki segudang pengalaman mengerikan bahkan mengancam nyawa.

Zainul Arifin menunjukkan kartu penyelam kebanggaannya (yudha/memo)
Zainul Arifin menunjukkan kartu penyelam kebanggaannya (yudha/memo)

Zainul Arifin, pegawai negeri sipil di Kantor Pemberdayaan Masyarakat (KPM) Kota Kediri salah satunya. Penyelam yang sempat harus istirahat selama sebulan penuh lantaran pembuluh darah hidungnya pecah mengaku tetap melakukan hobi berbahaya tersebut.

Kegemarannya menyelam dimulai sejak Zainul menjadi mahasiswa di salah satu akademi pelayaran di Semarang Jawa Tengah tahun 1998 silam. Menjadi seorang penyelam bukan hal mudah. Salah satunya sebelum menyelam, seorang penyelam harus tidak boleh sedang sakit. Meskipun hanya sakit pilek.

Zainul mengatakan, pernah saat dirinya akan melakukan penyelaman, ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang menderita pilek. Hasilnya, pada saat menyelam, ia tidak mampu untuk bernafas secara normal lantaran hidungnya tersumbat. Meski menyadari hal tersebut, Zainul tetap saja memaksakan diri untuk masuk dan menyelam lebih dalam. Hingga akhirnya, pembuluh darah yang berada di sekitar area hidungnya pecah. Pelindung wajah yang biasa ia pakai akhirnya penuh dengan darah yang keluar dari hidungnya. “Dulu tidak terasa kalau pilek. Sampai di dalam, ternyata penutup wajah sudah penuh dengan darah,” ujarnya saat ditemui Koran Memo, Jumat (30/10).

Akibat dari kejadian tersebut, Zainul terpaksa dilarang untuk kembali menyelam hingga satu bulan penuh dan menunggu hingga pembuluh darahnya kembali pulih. “Setelah itu, saya tidak boleh lagi menyelam sampai satu bulan. Sampai sembuh pembuluh darahnya,” imbuhnya.

Mulai tahun 1998 hingga tahun 2001, Zainul terus melakukan hobinya. Sampai akhirnya, ia mendapatkan kartu anggota khusus penyelam.

Zainul mengatakan, menjadi penyelam bukan hal mudah. Salah satu alasannya adalah terkait biaya. Untuk satu set peralatan menyelam, seorang penyelam harus mengeluarkan dana sekitar lebih dari Rp 12 juta. Belum lagi saat akan menyelam dan mengisi tabung yang tidak bisa dilakukan di sembarang tempat. “Menyelam itu tidak murah. Memulainya saja, butuh modal kalau sekarang sekitar Rp 12 juta lebih. Belum nanti kalau mau mengisi tabung gas. Tidak bisa diisi disembarang tempat. Harus pakai kompresor khusus,” ujarnya.

Berbagai resiko menjadi penyelam sama sekali tidak membuat Zainul jera. Ia mengatakan, menyelam membutuhkan trik dan pengetahuan khusus. Biasanya, butuh pelatihan selama beberapa bulan sebelum akhirnya seseorang boleh melakukan penyelaman. Salah satunya resiko gangguan pendengaran. Zainul mengaku, ada trik khusus yang tidak banyak diketahui banyak orang. Saat tekanan bawah air terasa menekan gendang telinga harus segera dinetralkan atau dikembalikan dengan menghembuskan nafas melalui hidung dengan hidung yang ditutup. “Kalau gendang telinga terasa ditekan, caranya menghembuskan nafas melalui hidung, tapi hidungnya harus ditutup. Nanti akan terasa gendang telinga kembali normal,” ujarnya.

Selain itu, bagi penyelam yang baru mencoba-coba untuk melakukan penyelaman, dilarang untuk langsung naik ke permukaan dalam waktu yang sangat cepat. Zainul mengatakan, trik dan tata caranya adalah, saat penyelam hendak naik, harus mengikuti gelembung udara terkecil yang keluar dari tabung. Hal tersebut adalah untuk menetralisir oksigen dalam darah sehingga saat naik ke permukaan, keadaannya akan sama dan tidak berbahaya.

Zainul mengatakan, apabila penyelam langsung naik ke permukaan, bisa mengakibatkan kelumpuhan. Sangat pentingnya proses naik ke permukaan, menjadikan seorang penyelam harus benar-benar menaati atau melakukan hal tersebut. Bahkan, saat darurat sekalipun, yang mengakibatkan seorang penyelam harus naik lebih cepat ke permukaan, cara pertolongannya harus dengan memasukkan kembali penyelam ke dalam kedalaman sebelumnya, dan dinaikkan ke permukaan dengan pelan-pelan.

Menyelam juga tidak diperbolehkan dilakukan seorang diri. Minimal ada 2 orang yang melakukan penyelaman untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan atau keadaan darurat.

Zainul mengatakan, seorang penyelam, saat melakukan penyelaman dilarang untuk sombong dan terlalu percaya diri. Artinya, penyelam dilarang memaksakan kemampuannya untuk masuk ke kedalaman yang tidak mampu ia jangkau. “Penyelam itu tidak boleh sombong. Kalau tidak mampu untuk menyelam terlalu dalam, ya jangan dilakukan,” imbuhnya.

Selain terkendala faktor biaya, penyelam juga terkadang bingung untuk memilih medan selam. Setelah menjadi PNS di Kota Kediri, Zainul mengaku belum pernah kembali melakukan penyelaman. Meski sebenarnya ada perkumpulan selam, tetapi hanya menyelam di dalam kolam renang yang tentu tidak begitu menarik bagi seorang penyelam.

Menyelam memang merupakan hobi atau kegiatan yang membahayakan. Akan tetapi akan menjadi sangat menyenangkan apabila dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai dengan aturan-aturan keselamatan.(rochmatullah kurniawan)

Follow Untuk Berita Up to Date