Waspada Penipuan Berkedok Pelunasan Kredit

Kediri, koranmemo.com –  Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Djoko Raharto meminta masyarakat untuk berhati-hati dengan mulai berkembangnya kasus penipuan yang mencatut nama Bank Indonesia. Djoko menjelaskan, penipuan tersebut berkedok pelunasan kredit atau hutang di bank dengan penerbitan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang menyatakan bahwa debitur sudah tak perlu lagi melunasi kredit tersebut setelah membayar sejumlah uang. “Dalam hal ini nanti, yang dirugikan bukan hanya masyarakat, namun juga BPR (Bank Perkreditan Rakyat),” tutur Djoko, Rabu (5/10).

Djoko mengungkapkan, ada dua lembaga yang sudah teridentifikasi melakukan pencatutan nama BI untuk aksi tersebut, yakni PT Swissindo World Trust dari Cirebon dan Koperasi Pandawa dari Yogyakarta. Untuk koperasi ini bahkan beberapa bulan yang lalu secara terang-terangan datang ke BI untuk melakukan audiensi dengan Djoko, yang kemudian ditolak oleh Djoko. “Jadi sudah jelas, bahwa BI sama sekali tidak pernah menandatangani ataupun menyetujui dikeluarkannya SBI dari dua lembaga tersebut,” tukasnya.

Baik pihak OJK maupun BI sendiri mengaku menerima aduan tentang ini dari BPR (Bank Perkreditan Rakyat) yang berada di wilayah kerja mereka. Dari pihak BPR mengatakan, bahwa ada debitur mereka yang datang untuk mempertanyakan kebenaran dari SBI tersebut. Karena merasa ada yang tidak beres, mereka kemudian melapor ke OJK dan BI. “Untungnya masih belum ada korban atau pihak yang dirugikan hingga sekarang,” jelas Djoko.

Hal tersebut jugalah yang membuat baik BI maupun OJK masih belum bisa mengambil tindakan tegas terhadap dua lembaga tersebut. Karena memang masih belum ada aduan dan pihak BI juga tidak mengalami kerugian apapun. “Karena itu yang bisa kami lakukan sekarang hanya mengedukasi masyarakat, jangan sampai jatuh korban,” ujarnya.

Slamet Wibowo, Kepala KOJK (Kantor Otoritas Jasa Keuangan) Kediri menuturkan, yang menjadi sasaran dari lembaga-lembaga semacam ini kebanyakan adalah masyarakat pedesaan dan minim akses informasi. Secara gerilya, lembaga tersebut mencari orang-orang yang mengalami kredit macet, kemudian ditawari penyelesaian dengan membayar sejumlah uang untuk masuk menjadi anggota lembaga tersebut.

“Setiap perbankan selalu menjaga kerahasiaan nasabahnya dengan baik. Jadi hal yang mungkin terjadi, bagaimana lembaga-lembaga ini mencari korbannya, ya pendekatan secara gerilya. Karena itu OJK mengimbau, jika mendapati agen-agen seperti ini, bisa segera melaporkan atau berkonsultasi dengan OJK,” tegasnya. (yud/ela)

 

Follow Untuk Berita Up to Date