Warga Usir Petugas PT KAI

Kediri,Koran Memo – Sosialisasi kepemilikan aset yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) kepada warga di Jl Pangrango Kelurahan / Kecamatan Pare Kabupaten Kediri,Rabu (20/5) sekitar pukul 10.00 WIB berlangsung panas. Petugas PT KAI yang melakukan sosialisasi secara door to door sempat diusir karena warga yang merasa memiliki tanah tersebut tidak terima.

Suasana sosialisasi dari PT.KAI dengan warga yang sempat memanas (andik/memo)
Suasana sosialisasi dari PT.KAI dengan warga yang sempat memanas (andik/memo)

Sebelum melakukan sosialisasi secara door to door,petugas PT KAI melakukan musyawarah dengan Ketua RT 1 dan Ketua RT 5. Musyawarah ini juga dihadiri sekretaris desa dan camat setempat sebagai mediator.

Setelah melakukan musyawarah kedua belah pihak sepakat untuk melakukan pertemuan dengan warga yang rencananya digelar minggu depan. PT KAI menginginkan warga datang bukan atas nama paguyuban karena menilai langkahnya untuk menertibkan aset selama ini terhambat karena adanya paguyuban tersebut.

Windar, Kepala Daops 7 Madiun menjelaskan jika PT KAI menargetkan penyelesaian masalah kepemilikan aset hingga bulan Juli mendatang. Warga diminta sudah memberi kepastian bersedia atau tidak membayar sewa pada 1 Juli 2015 mendatang. ” Kami menargetkan tanggal 1 Juli 2015 nanti warga sudah memberi kejelasan terkait masalah ini secara baik-baik sehingga kami tidak sampai melanjutkan masalah ini ke jalur hukum lebih lanjut,”ungkapnya.

Setelah melakukan musyawarah dengan petinggi desa,seluruh petugas KAI menuju ke salah satu rumah kos untuk melihat aset sekaligus melakukan sosialisasi. Di kos tersebut petugas menanyakan kemana pembayaran sewa dilakukan oleh penghuni kos.

Nana (24) salah satu penghuni kos mengaku selama ini membayarkan uang sebesar Rp 350 ribu kepada pemilik kost. “Saya setiap bulan membayar uang sewa tersebut kepada pemilik kost ,”pengakuannya kepada petugas PT.KAI.

Di tengah – tengah sosialisasi itulah emosi warga tersulut karena menilai petugas tersebut tidak sopan dan sewenang-wenang. Warga lantas mengusir petugas dan memukul lonceng hingga warga berdatangan keluar.

Situasi makin memanas karena warga tetap bersikukuh mempertahankan lahan tempat mereka tinggal tersebut. Warga tetap menginginkan PT KAI melakukan penyelesaian melalui paguyuban, termasuk jika ingin melakukan sosialisasi kepada warga. Itulah yang membuat warga geram karena cara sosialisasi door to door seperti ini masih terus dilakukan.

Nanus (43) salah satu warga yang ikut mengusir petugas menjelaskan alasannya tidak menerima petugas tersebut. “Kami sudah memiliki paguyuban yang kami bentuk untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi PT KAI masih saja terus melakukan cara seperti ini dan tidak mau menerlibatkan paguyuban,”pungkasnya.

Warga menilai jika cara sosialisasi dari petugas PT.KAI secara door to door ini meresahkan warga. Karena itulah warga membentuk paguyuban untuk bekerja sama mempertahankan lahan tempat mereka tinggal.(and)

Follow Untuk Berita Up to Date