Warga Terdampak Tsunami Masih Bertahan di Tenda Pengungsian

Lampung, koranmemo.com – Pasca tsunami yang menerjang pesisir pantai di Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung, masyarakat masih bertahan di tenda pengungsian. Bantuan kebutuhan sandang pangan serta obat – obatan sudah diterima, namun masih menyisakan trauma bagi penduduk setempat. Aktivitas anak Gunung Krakatau masih terpantau stabil, meskipun berada pada level siaga III.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan, Afendi mengatakan, pasca tsunami yang melanda pesisir pantai Lampung Selatan, aktivitas anak Gunung Krakatau terpantau stabil dan hanya mengeluarkan asap putih. “Kalau dari bibir pantai yang terdampak tsunami, tidak tampak lava pijar yang ke luar. Hanya asap putih, dan bukan awan panas,” jelasnya, saat dikonfirmasi Koranmemo.com, Jumat (28/12).

Gelombang air laut, lanjut Afendi, masih normal dan tidak terlihat gelombang tinggi. Pihaknya juga masih menunggu informasi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia, untuk mengetahui kemungkinan terjadinya longsor dan gempa susulan. “Mulai kemarin, ditentukan dari BMKG masih status siaga III,” sahutnya.

Masyarakat yang terdampak tsunami, masih bertahan di tenda – tenda pengungsiaan yang berjarak 1 kilometer dari bibir pantai dengan ketinggian berkisar 300 meter sampai 500 meter di atas permukaan air laut. Tenda – tenda pengungsian yang didirikan, selain bantuan dari pemerintah, masyarakat beriinisiatif membangun dengan terpal seadannya. Padahal, untuk mempermudah pemantauan dari petugas BPBD, seharusnya ada tenda khusus dengan lokasi yang beredekatan.

Menurut Afendi, selama beberapa hari ini, cuaca di Kabupaten Lampung Selatan diselimuti mendung. Meskipun demikian, tidak turun hujan dan diduga awan tersebut karena asap dari aktifitas anak Gunung Krakatau. “Suasananya seperti berkabut dan mendung, tapi tidak turun hujan. Kalau turun hujan juga repot, karena dapat meningkatkan resiko masyarakat terjangkit penyakit. Namun, sudah diantisipasi dengan adanya bantuan obat – obatan dan posko kesehatan,” tuturnya.

Sementara itu, untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan, petugas mengimbau kepada masyarakat maupun wisatawan dilarang mendekat dengan radius 5 kilometer dari anak Gunung Krakatau. Sampai sekarang, sambung Afendi, masyarakat masih mengalami trauma yang mendalam. Diperlukan kehadiran psikolog untuk memberikan terapi sehingga diharapkan ada pemulihan mental.

Meskipun bantuan keperluan sandangan seperti baju bekas layak pakai dan pangan cukup, namun keperluan untuk anak seperti susu sangat diperlukan. Ini lantaran, di tenda pengungsian banyak anak kecil dan balita. “Kalau bantuan makanan dan pakaian sudah sangat cukup. Yang diperlukan saat ini adalah bantuan susu bagi anak – anak. Dan harapan kami, aktivitas anak Gunung Krakatau tidak meningkat,” tandasnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu

Editor : Della Cahaya

Follow Untuk Berita Up to Date