Warga Nganjuk Disangka Terduga Pelaku Bom Bunuh Diri

Nganjuk, koranmemo.com – Pasca meledaknya bom bunuh diri di 3 gereja wilayah Surabaya pada Minggu (13/5) lalu, beredar kabar di media sosial jika pelakunya adalah warga Nganjuk. Bahkan, sempat viral bahwa pelaku mengendarai sepeda motor Yamaha Jupiter Z nopol AG 4966 WI masih berkeliaran di Surabaya.

“Benar, kabar itu sempat viral di media sosial. Karena plat nomornya AG Nganjuk, maka saya perintahkan anggota untuk mengeceknya. Ternyata itu motor milik Fitria Diyah Irawati (35) warga RT 01/RW 01 Desa Kuncir Kecamatan Ngetos,” kata AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta Kapolres Nganjuk saat konferensi pers, Rabu (16/5) siang.

Begitu sudah diketahui pemiliknya, lanjut Dewa, maka diperintahkan Kapolsek Ngetos AKP Mas Harley untuk mencari Fitria Diyah Irawati. “Gayung pun bersambut, bersamaan itu pula yang bersangkutan mengadu ke Polsek Ngatos jika telah difitnah di media sosial sebagai pelaku pengeboman gereja,” paparnya.

Keterangan yang didapat dari istri Arif Zulianto ini, jika sepeda motor itu dibawa dan dikendarai oleh Moch. Rizal Maulana beserta temannya. Saat itu juga Rizal yang kala itu berada di wilayah Kendal Jawa Tengah langsung disuruh merapat ke Polsek Tugu.

“Rizal yang saat itu sedang jalan-jalan langsung merapat ke Mapolsek Tugu. Dikarenakan sudah tersiar kabar bahwa sepeda motor tersebut dikendarai oleh pria pembawa bom, Rizal merasa tidak aman. Akhirnya dia dan temannya dibawa ke  Mapolrestabes Semarang,” jelas Dewa.

Setelah dipastikan bahwa Fitria Diyah Irawati dan keluarganya hanya korban berita hoax, akhirnya petugas Polres Nganjuk menjemputnya untuk diajak pulang. “Itu berita hoax, orangnya masih hidup,” tegas Dewa seraya mengajak Fitria ke depan.

Sementara itu, Fitria Diyah Irawati kepada sejumlah wartawan mengatakan jika pada saat kejadian bom bunuh diri itu, dia bersama suaminya memang berada di Surabaya. “Saat itu saya dan suami ziarah ke makam Sunan Ampel,” katanya.

Dalam perjalanan pulang, lanjutnya, ponselnya beberapa kali bordering. Ketika diangkat, keluarganya pada menghubungi karena dia disangkut pautkan dengan kejadian bom bunuh diri di tiga gereja tersebut.

“Saya sekeluarga sempat kaget, karena dituduh sebagai teroris. Keamanan dan kenyamanan saya terganggu. Maka dari itu saya minta perlindungan polisi. Saya mengutuk keras bom bunuh diri itu,” tukasnya.

Kini dia bersama keluarga sudah bisa merasa tenang karena pelaku bom bunuh diri sudah terungkap. Dia juga menyesalkan tindakan dari orang yang tidak bertanggung jawab yang telah menyebarkan berita bohong. “Saya tidak akan menuntut orang yang menyebarkan berita itu, saya serahkan semuanya kepada Tuhan,” tuturnya.

Reporter : Muji Hartono

Editor    : Achmad Saichu

 

Follow Untuk Berita Up to Date