Warga Candirejo Laporkan Panitia Pilkades ke Kejari

Nganjuk, koranmemo.com – Puluhan warga Desa Candirejo Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Nganjuk, Senin (18/2). Kedatangan mereka guna melaporkan adanya dugaan kecurangan yang dilakukan oleh Panitia Pilkades di desanya.

Jarianto, warga RT 3/ RW 2 Desa Candirejo Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk menyampaikan, sebagai saksi dari salah satu calon kepala desa setempat, pihaknya merasa dirugikan dengan sikap yang dilakukan panitia Pilkades di desanya sepanjang proses pencoblosan pada 12 Februari 2019 lalu. Menurutnya, ketika menjadi saksi di TPS, ada empat kotak suara, tetapi yang dibuka cuma tiga kotak suara, sehingga ada satu kotak suara yang tidak dibuka.

“Dan saat saya meminta untuk membuka kotak suara tersebut, panitia pemilihan Kepala Desa Candirejo menolak dengan alasan sudah dibuka, tetapi pada kenyataannya sepanjang proses yang saya ikuti, kotak suara keempat tersebut belum dibuka,” jelasnya.

Kekesalan kian bertambah, ketika ia meminta daftar hadir DPT (daftar pemilih tetap) kepada panitia, tidak diberi dengan alasan tidak boleh. Dia juga mengaku merasa dihalang-halangi ketika menyaksikan proses penghitungan suara, yakni dengan cara panitia sengaja berdiri tepat di depan tempat penghitungan suara. “Saya tidak bisa melihat kartu suara yang dicoblos sah atau tidak, ataupun nomor berapa yang dicoblos,” katanya.

Dugaan adanya kecurangan sepanjang Pilkades di Desa Candirejo juga disampaikan oleh Suwardi, warga RT 2/ RW 6 Desa Candirejo Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk. Dia mengaku melihat dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Luluk Ratnawati, warga RT 3/RW 1 Desa Candirejo, dan Sri Utami, warga RT 3/ RW 2 Desa Candirejo, di sekitar lokasi ketika proses pencoblosan berlangsung.

“Saya melihat Luluk Ratnawati dan Sri Utami menghadang warga yang hendak mencoblos di TPS. Keduanya meminta kartu undangan pencoblosan milik warga yang baru turun dari kereta kelinci untuk menuju ke TPS,” ujarnya.

Dalam proses pelaporan tersebut, Suwardi mengaku telah mencantumkan beberapa alat bukti serta keterangan saksi. Bahkan, ia mengaku sempat merekam pembicaraan dari salah satu warga yang surat undangannya diminta oleh Luluk maupun Sri utami di sekitar lokasi pencoblosan.

“Keesokan harinya, ketika saya tanya kepada warga yang surat undangan pencoblosan diminta itu, ternyata mengaku diberi uang Rp 150 ribu oleh Mat Bedor, warga Candirejo, yang kami duga merupakan orang suruhan Roni Giat Brahmanto, Calon Kades Candirejo bernomor urut 2 yang menjadi kades terpilih,” katanya.

Perwakilan warga Desa Candirejo yang lain, Prasetyo, mengaku juga melayangkan surat serupa ke Bupati Nganjuk, Polres Nganjuk, Dinas PMD Nganjuk, DPRD Nganjuk, Camat Loceret, BPD Candirejo, hingga Panitia Pilkades Candirejo. Dia menegaskan, isi surat yang dilayangkan kurang lebih sama, yaitu pembatalan pelantikan kades terpilih dan adanya Pilkades ulang.

“Semua kita surati, ini yang lain masih proses mau kita berikan. Termasuk Bupati Nganjuk juga kita surati. Intinya sama, warga Candirejo minta pelantikan kades terpilih ditunda atau dibatalkan, dan harus diadakan Pilkades ulang karena banyak kecurangan,” tandasnya.

Sementara itu, Kasi Intel Kejari Nganjuk, Dicky Andi ketika dikonfirmasi Koran Memo perihal ini, membenarkan adanya laporan dari warga. Saat ini pihaknya sedang mengkaji laporan tersebut. “Benar (ada laporan). Saat ini sedang kami kaji,” jelasnya.

Reporter Andik Sukaca

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date