Umat Hindu Jalani Catur Brata Penyepian

Nganjuk, koranmemo.com –┬áSuasana di Desa Bajulan Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk, Sabtu (17/3), terlihat sepi tanpa ada aktifitas apapun. Bahkan, suara masyarakat yang ada di dalam rumahpun nyaris tidak terdengar lantaran mereka tengah melaksanakan catur brata penyepian.

Umat hindu setempat menjalankan ibadah tersebut dengan harapan dapat mendekatkan diri kepada tuhan. Semua aktivitaspun pada hari raya Nyepi ditiadakan. Hanya pecalang yang diperbolehkan keluar rumah untuk menjaga umat dalam menjalankan ibadah.

Daminto Gede, Pecalang menjelaskan, catur brata penyepian memiliki makna yaitu, amati karya, amati geni, amati lelungan, dan amati lelanguan.

“Amati karya maksudnya semua umat hindu pada hari raya nyepi tidak diperbolehkan melakukan aktivitas atau pekerjaan apapun. Amati geni maksudnya umat hindu tidak diperbolehkan menyalakan api, baik itu lampu maupun api lainnya, sehingga tidak ada aktivitas masak-memasak atau aktivitas lain dengan menyalakan api atau lampu selama 24 jam,” jelasnya.

Di Desa Bajulan, pada peringatan Nyepi tahun Saka 1940, menugaskan tujuh pecalang guna menjaga umat dalam menjalankan ibadah tersebut. Ketujuh pecalang ini akan bertugas memberikan peringatan kepada umat yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan.

Pecalang Daminto Gede mengatakan, dia bersama pecalang lain melakukan penjagaan kampung agar umat dalam menjalankan ibadah bisa lebih khusyuk. Karena umat Hindu di Desa Bajulan bertinggal di desa yang terbelah jalan raya. Maka meski umat melaksanakan nyepi, tetapi masih banyak masyarakat lain yang berlalu lalang dengan menggunakan kendaraan, karena masyarakat hindu di Bajulan berdampingan dengan masyarakat agama lain.

Reporter: Andik Sukaca

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date