Tutup Paksa Proyek Irigasi

Mojokerto, koranmemo.com – Ratusan warga dari tiga desa menutup paksa proyek normalisasi irigasi Candilimo di Desa Sumberagung Kecamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto, Sabtu (7/1). Warga menuding proyek pemerintah itu hanya untuk mengeruk bebatuan yang dijual ke perusahaan pejabat.

Aksi warga Desa Baureno, Dinoyo, dan Sumberagung itu dilakukan sejak pukul 10.00 WIB. Warga langsung memadati tanggul lokasi proyek normalisasi Sungai Candilimo. Berbekal pengeras suara,  warga berorasi sembari membentangkan poster berisi tuntutan di bawah penjagaan puluhan anggota kemanan gabungan, polisi, dan TNI. “Kami menuntut penghentian penggalian batu yang berkedok normalisasi sungai,” kata koordinator aksi, Muhammad Samsul Bahri kepada wartawan di lokasi.

Samsul yang juga anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sumberagung menjelaskan, proyek normalisasi irigasi Candilimo dikerjakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas PU Pengairan Kecamatan Jatirejo sejak dua bulan yang lalu. Namun, dalam prosesnya, pengerukan dengan alat berat juga mengenai tanah warga dan tanah kas desa (TKD) Sumberagung. “Ada banyak tanah warga yang terkena proyek ini. Ada yang tanah warga di bagian sungai ada yang hak milik, termasuk TKD. Yang hak milik hanya dikasih ganti rugi tanaman,” jelasnya.

Tak hanya itu, lanjut Samsul, proyek normalisasi tersebut tak ubahnya bisnis tambang galian C yang dijalankan pemerintah. Pasalnya, UPT Dinas PU Pengairan Kecamatan Jatirejo ternyata menjual bebatuan yang dikeruk dari sungai ke perusahaan pemecah batu. Padahal sebagian meterial tersebut dikeruk dari tanah warga Sumberagung. “Batunya dikirim ke salah satu PT. Salah satu syarat normalisasi adalah rekom dari bupati untuk mengatasi banjir. Kali Pikatan (irigasi di lokasi lain) sampai saat ini kondisinya sempit, tidak pernah dinormalisasi karena tidak ada batunya, makanya dibiarkan,” terangnya.

Aksi warga akhirnya direspon Camat Jatirejo, Joko Wijayanto yang turun ke lokasi unjuk rasa. Dia mengajak perwakilan warga untuk berdialog di Balai Desa Sumberagung. Meski sempat terjadi perdebatan antara warga dengan camat dan polisi di lokasi, akhirnya warga bersedia membubarkan diri menuju ke balai desa. “Kami hanya mengamankan warga supaya jangan sampai menyalahi aturan. Nanti dalam mediasi kami sandingkan semua alat buktinya terkait tanah warga,” ujar Joko.

Sementara, di lokasi proyek, terlihat sebuah alat berat dan sejumlah truk yang sedang mengeruk batu di sungai. Melihat masih ada pekerjaan yang dilakukan, warga lantas meminta truk dan alat berat meninggalian lokasi. Para pemuda desa terpaksa menyegel  alat berat setelah operator kabur melihat warga datang. (ag)

 

Follow Untuk Berita Up to Date