Tukang Ojek dan Sopir Taxi Tolak Angkutan Online

Madiun, koranmemo.com-Ratusan sopir angkutan konvesional yang terdiri dari ojek, taksi dan becak ngluruk kantor DPRD Kota Madiun, Kamis (19/10). Mereka menolak keberadaan ojek online (Go-Jek) dan taksi online (Go-Car) yang selama ini telah beroperasi di Kota Madiun.

Mereka membawa becak, taksi dan motor roda dua, para komunitas transportasi konvesional ini masuk kedalam gedung DPRD di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Madiun. Massa kemudian langsung ditemui oleh para wakil rakyat dan diajak untuk audensi di ruang rapat paripurna. Dalam pertemuan itu, massa meminta izin operasional transportasi online untuk dicabut.

“Kami minta dewan yang terhormat ini dapat memberikan solusi atas masalah kami. Karena jika kita lihat, driver Go-Jek ini bukan hanya dari dalam kota. Namun juga dari luar Kota Madiun,”kata salah satu tukang ojek di Stasiun Besar Madiun, Purbo.

Senada dikatakan pengemudi taksi konvesional, Sutomo. Menurutnya,  selama transportasi online beroperasi di Kota Madiun sekitar tiga bulan terakhir ini, pendapatan mereka turun secara drastis. Jika biasanya pendapatan mereka rata-rata sampai Rp 150 ribu per hari, kini hanya sekitar Rp 50 ribu. “Kami minta Go-Car dan Go-Jek di Madiun untuk dihapus. Karena selama keberadaan Go-Car dan Go-Jek, pendapatan kami menurun sangat drastis,”katanya.

Menanggapi keluhan ini, dalam waktu dekat anggota DPRD Kota Madiun berjanji akan memanggil pihak-pihak yang terkait. Sehingga bisa didapatkan solusi yang terbaik bagi semua pihak. “DPRD akan melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait. Termasuk penyelenggara Go-Jek juga akan kita panggil,”kata Ketua DPRD Kota Madiun, Istono.

Sebenarnya, keberadaan Go-Jek di Kota Madiun sudah ada sejak tiga bulan lalu dan saat ini tercatat mencapai lebih dari 1.000 driver. Bahkan,Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Koperasi dan Usaha Mikro (DPMPTSP) sempat kecolongan dengan mengeluarkan izin konsultasi manajelem lain (aplikasinya saja) Go-Jek. Namun kemudian ditarik kembali oleh DPMPTSP dengan alasan masih menunggu regulasi yang akan diterapkan.

Bahkan ketegangan seringkali terjadi antara transportasi konvesional dan transportasi online. Hal ini membuat pihak Kepolisian sempat turun tangan melakukan mediasi. Hasilnya, driver ojek online bisa melakukan penjemputan penumpang dengan radius jarak sekitar 500 meter dari Stasiun Besar Madiun maupun Terminal Purboyo Madiun.

Kemudian jika tidak ada keperluan order makanan (go-food) dan mengantar penumpang di Stasiun Besar Madiun maupun Terminal Purboyo Madiun, driver Go-Jek dilarang berhenti di sepanjang jalan menuju stasiun dan terminal.

Driver Go-Jek juga diminta tidak menaikkan dan menurunkan penumpang di dekat lokasi ojek pangkalan, tukang becak, taksi serta angkutan kota. Tak hanya itu saja, Go-Jek dilarang untuk melakukan aksi konvoi tanpa sepengetahuan tim satgas.

Reporter: M. Adi Saputra

Editor:Achmad Saichu

 

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.