Tujuh Proyek Fisik di Kota Madiun Bermasalah

Madiun, koranmemo.com-Sedikitnya tujuh pelaksanaan proyek fisik di Kota Madiun tahun anggaran 2017 bermasalah. Hal itu terungkap saat Komisi III DPRD Kota Madiun melakukan inspeksi mendadak (sidak), Senin (7/8).

Diantaranya, proyek rehabilitasi bangunan SMPN 3 Kota Madiun senilai Rp 880 juta, dinilai progress pekerjaan minus. Sesuai data, proyek pembangunan tiga Ruang Kelas Baru (RKB) yang dikerjakan oleh CV. Cahaya Abadi dengan konsultan pengawas dari CV. Bola Mandiri itu, baru mencapai progress 15,959 persen. Padahal sesuai rencana diharuskan sudah mencapai 48,98 persen.

Meski konsultan pengawas berdalih kendala keterlambatan ini dikarenakan adanya libur lebaran selama dua minggu, namun dewan beranggapan hal itu tidak boleh dijadikan alasan. “Ini jelas tenaganya kurang. Masak proyek besar tenaganya hanya 25 orang. Selain itu juga materianya kurang siap. Kalau dibiarkan seperti ini terus, maka saya yakin tidak akan selesai,”kata Ketua Komisi III, DPRD Kota Madiun, Bondan Pandji Saputro, Senin (7/8).

Temuan yang sama juga didapat saat Sidak di proyek pembangunan RKB SMPN 1 Kota Madiun. Selain tenaga dan material yang kurang memadahi, progress pekerjaan proyek yang dilaksanakan oleh CV. Gada Jatra Prasada senilai Rp 1,3 miliar tersebut, lagi-lagi mengalami keterlambatan. “Ini baru terealisasi 9,69 persen. Padahal sesuai target harus sudah 14,7 persen. Seharusnya pekerjaan ini sudah tahap pengecoran,”ujar Pandji.

Sedangkan di proyek pagar makam Jalan Kalimosodo yang dikerjakan  CV. Mufakat, dewan tak menemukan pengawas maupun pelaksana proyek. Juga tidak ada molen untuk mengaduk bahan bangunan. Sehingga para pekerja dibiarkan saja mengerjakan pagar makam senilai Rp 213 juta, tanpa ada pengawasan.

Lantas di proyek pagar Makam Pranoto Loyi Kelurahan Demangan senilai Rp 341 juta yang dikerjakan CV. Anugerah, malah sama sekali tidak ada aktifitas pekerjaan. “Di proyek pagar ini progressnya tidak jelas. Kemudian sloof pondasi ini saat kita pegang saja ambrol. Selain itu jarak ring begel mestinya 12 cm, ini kok 20 cm. Jelas kami sangat kecewa sekali. Seharusnya kalau sudah diberikan kepercayaan, ya harus memiliki tanggungjawab,”sorot anggota Komisi III lainnya, Rina Hariyanti.

Sementara di dua proyek pembangunan trotoar dan satu proyek peningkatan jalan dan bangunan pelengkap, juga ditemukan masalah yakni di proyek trotoar Cokroaminoto dikerjakan PT. Rajawali Raya senilai Rp 3,4 miliar dan trotoar jalan Agus Salim senilai Rp 3,3 miliar dikerjakan PT. Andys Kencana, dewan tidak menemukan pelaksana dan konsultan pengawas berada di lokasi. Selain itu, ketinggian dan sisi simetris box culvert tidak sesuai. Sehingga dewan meminta pekerja dilapangan untuk dibongkar kembali.

“Jangan boleh diurug dulu. Yang sudah terpasang tolong dibongkar dulu. Kan pasanganya ketinggianya nggak sama, simetrisnya nggak lurus. Pengawas dan pelaksana nggak ada. Kalau kita mau klarifikasi proyek kemana?,”tanya Anggota Komisi III, Marsidi Rosyid.

Sedangkan di proyek peningkatan jalan dan bangunan pelengkap Serayu dengan nilai Rp 2,6 miliar dikerjakan PT. Garuda Persada Bakti Pertiwi, kedalaman pengerukan tanah hanya 23 cm. Padahal seharusnya sesuai spek 30 cm. Sehingga pelaksana dan pengawas diminta menambah kedalaman galian. “Jangan sampai terjadi kekurangan volume. Kita nggak mau tahun ini ada proyek gagal maupun ada temuan,”tandasnya.

Reporter: M. Adi Saputra
Editor: Achmad Saichu
Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.