Tradisi Turun Temurun Kenduri Ketupat Lebaran di Kota Angin

Nganjuk, koranmemo.com – Setelah enam hari Idul Fitri, sebagian besar masyarakat Kabupaten Nganjuk merayakannya dengan kenduri ketupat. Tradisi seperti ini sudah dilakukan secara turun temurun sebagai upaya ngalap berkah.

Kenduri ketupat seperti ini juga bertujuan agar selama berpuasa dan Idul Fitri dapat menjadi manusia yang lebih baik.

Salah satu daerah di Nganjuk yang melakukan tradisi seperti ini adalah Desa Salam Rojo Kecamatan Berbek. Dimulai dengan tiap rumah membawa beberapa ketupat di ember dan berkumpul di musala.

Pelaksanaan tradisi kenduri ketupat yakni dengan membaca doa yang dikirim kepada leluhur. Setelah doa selesai, bisa segera menyantap ketupat bersama dengan beberapa hidangan pelengkap, berupa sayur lodeh, serbuk jagung, dan sambel kacang serbuk.

Warsidi, tokoh masyarakat setempat mengungkapkan, tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun dan diharapkan dengan adanya tradisi ini dapat mempererat silaturahmi, serta meningkatkan pahala.

“Tradisi ketupat ini setelah satu syawal, maka disunahkan untuk berpuasa kembali selama enam hari. Kemudian ada sedekah dan banca’an ketupat, dan pahalanya akan ditambah satu bulan,” ungkapnya.

Menurut sejarahnya, ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada masanya. Setelah lebaran masyarakat menganyam janur dan jadilah ketupat . Pada ketupat yang telah dianyam tersebut kemudian diisi dengan beras.

Namun tradisi ketupat ini dulunya adalah hasil asimilasi agama hindu. Ketupat ini mencerminkan kesalahan manusia dan warna putih pada beras adalah perlambang kebersihan setelah bermaaf-maafan.

Reporter: Andik Sukaca

Editor : Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date