Tradisi Nyadran Bendo Asri,  7 Gadis, 7 Sumber, 7 Tumpeng

Nganjuk, koranmemo.com  – Salah satu desa terpencil di tengah hutan wilayah Kabupaten Nganjuk menggelar tradisi bersih desa atau nyadran. Uniknya, ada 7 gadis mengusung 7 air dari 7 sumber mata air desa, serta mengusung 7 tumpeng hasil bumi keliling desa pada tradisi tersebut.

Tradisi yang berlangsung secara turun temurun ini merupakan upaya melestarikan budaya Jawa. Tujuannya agar manusia selalu bersyukur atas karunia berupa air dan hasil bumi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.

Tradisi itulah yang hingga kini dipegang teguh warga Bendo Asri Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk, dengan rutin menggelar tradisi bersih desa atau dikenal dengan istilah nyadran. Sebanyak 300 warga lereng Gunung Pandan memulai tradisi dengan arak-arakan dari depan balai desa menuju rumah kepala desa. Ada salah satu prosesi dimana sebanyak tujuh gadis cantik berparas ala putri kerajaan membawa tujuh air dari tujuh sumber mata air yang ada di Sendang Desa Bendo Asri.

Warga juga mengusung tumpeng hasil bumi raksasa yang diarak keliling kampung. Warga pun juga membawa berbagai makanan yang dibungkus dengan kulit dan daun pisang.

Dalam arak-arakan sejumlah pria mengenakan baju keraton, lengkap dengan keris dan membawa tombak pusaka desa. Setelah sampai di depan rumah kepala desa, air dimasukkan ke dalam kendi dan semayamkan untuk dituangkan di tahun depan pada acara serupa.

Kepala Desa Bendo Asri, Dudung Kuswanto mengungkapkan, acara bersih desa merupakan acara sakral yang digelar setiap tahun. Meski desanya terletak di tengah hutan, namun kondisi itu tidak menyurutkan antusias warga untuk tetap melestarikan budaya dari tradisi nenek moyang.

“Pengambilan dan penyemayaman air bertujuan agar sumber mata air tetap lancar, serta tidak ada musibah kekeringan. Juga sebagai upaya menjaga hutan agar tetap lestari demi meningkatnya kesejahteraan dan keberlangsungan hidup warga desa,” ungkapnya.

Sementara itu, menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Nganjuk, Pasiyan, perayaan tradisi nyadran merupakan bentuk upaya melestarikan budaya sebagai kultur dari desa yang perlu dilestarikan. “Ini merupakan bentuk pelestarian budaya yang dilakukan warga desa. Kultur seperti ini perlu dilestarikan,” jelasnya.

Reporter: Andik Sukaca

Editor: Della Cahaya

Follow Untuk Berita Up to Date