Tradisi Lebaran Ketupat di Trenggalek, Polisi Amankan Belasan Balon Udara

Trenggalek, koranmemo.com – Tradisi balon udara sebagai ungkapan suka cita sebagian masyarakat dalam menyambut lebaran ketupat masih terus dilakukan. Meskipun ada larangan, nyatanya tak menyurutkan tekad warga untuk tetap menerbangkan balon udara tanpa memperhatikan dampaknya. Akibatnya, belasan balon udara dengan berbagai ukuran gagal mengudara karena diamankan kepolisian.

Puluhan balon udara dengan berbagai ukuran itu diamankan petugas dari berbagai wilayah yakni wilayah Kecamatan Tugu, Pogalan, Gandusari dan Durenan. Meskipun demikian, petugas tak sepenuhnya berhasil mengingat adanya balon udara yang lolos mengudara. Misalnya di Desa Pogalan dan Desa Kedunglurah, petugas mengamankan dua balon dari sekelompok warga setempat sebelum diterbangkan.

“Namun tadi ada tiga balon berukuran sekitar tinggi empat meter dan lebar tiga meter mengudara. Saat kami datang, balon sudah mengudara, padahal sebelumnya sudah kami lakukan sosialisasi. Sementara dua balon lainnya berukuran sekitar tinggi tiga meter dan lebar dua meter dapat kami amankan,” kata Kapolsek Pogalan, AKP M Mahmudi, Rabu (12/6).

Selain di wilayah Kecamatan Pogalan, secara umum petugas juga mengamankan sebanyak 20 balon udara di tiga wilayah lainnya. Namun lima diantaranya diketahui tanpa awak atau tidak diketahui dari mana asal usul balon udara tersebut. Meskipun upaya pencegahan yang dilakukan pihak kepolisian tak sepenuhnya berhasil, namun mereka mengklaim tradisi balon udara liar di Kabupaten Trenggalek menurun sekitar 60 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.

“Ada yang berhasil kami gagalkan sebelum diterbangkan, ada sebagian yang kami temukan sudah mendarat, misalnya di sawah dan lain sebagainya. Padahal sebelumnya sudah kami lakukan sosialisasi bersama instansi terkait lainnya, termasuk melibatkan petugas PLN juga,” kata Kapolres Trenggalek, AKBP Didit Bambang Wibowo S melalui Kasubbag Humas, Iptu Supadi.

Aturan yang jelas tanpa implementasi yang memadai ditengarai menjadi celah bagi warga tetap nekad menerbangkan balon udara tanpa mempertimbangkan dampaknya. Misalnya tahun kemarin, sedikitnya terjadi kebakaran hutan sebanyak tiga kali di Gunung Kebo dan Gunung Jaaz karena disebabkan balon udara. Meskipun kebakaran berskala kecil, namun hal ini perlu mendapatkan perhatian.

“Sementara masih kami lakukan pembinaan, tadi kami lakukan pendataan identitas. Kami juga lakukan patroli berkala dan penyuluhan kepada masyarakat agar tidak menerbangkan balon udara. Silahkan ikut festival saja, karena pengawasan terpusat. Selain itu juga ada ketentuan yang harus dipenuhi, misalnya balon di tali dengan ketinggian tertentu,” jelasnya.

Larangan untuk menerbangkan balon udara bukan tanpa alasan. Selain dapat mengganggu penerbangan, potensi kebakaran hingga korsleting listrik turut mengancam. Sebab balon udara liar mendarat di sembarang tempat. Terlebih bahan yang digunakan untuk menerbangkan balon udara menggunakan panas api.

“Sangat berbahaya. Kami minta kesadaran masyarakat untuk sama-sama menciptakan kondusifitas wilayah. Meskipun warga menerbangkan sendiri menggunakan tali, tapi apa sepenuhnya tali yang digunakan sudah teruji. Jadi tidak serta merta bisa dilakukan. Kecuali ada pengawasan khusus seperti festival, yang sedianya dilakukan hari ini namun ditunda besok karena faktor angin,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date