Ternyata Begini Sikap Bupati Trenggalek Terkait Potensi Minyak Atsiri

Trenggalek, koranmemo.com – Inovasi pertanian berbasis lokal science techno park (STP) minyak atsiri di Kabupaten Trenggalek terus dikembangkan. Topologi wilayah yang didominasi kawasan pegunungan dan hutan menjadikan minyak atsiri dinilai potensial, menjadi produk andalan yang diyakini bakal menembus pasar global. Terlebih, STP minyak atsiri bakal mendapatkan pendampingan pasca terpilihnya Kabupaten Trenggalek dalam program yang diselenggarakan oleh Bloomberg Harvard City Leadership Initiative.

Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak mengatakan, selain potensial menjamah pasar global, komoditas atsiri juga dinilai cocok untuk dikembangkan di Kabupaten Trenggalek. Kondisi ini didukung dengan topologi wilayah Trenggalek yang didominasi kawasan pegunungan dan hutan. “Kalau masalah atsiri ini memang pasar dunianya potensial. Kedua kita daerah pegunungan dan hutan sehingga sangat cocok untuk dikembangkan,” ujarnya saat menghadiri pembukaan acara Boot Camp Bloomberg Harvard City Leadership Initiative di Hotel Bukit Jaas Trenggalek, Senin (3/12).

Emil menyebut, topologi wilayah Kabupaten Trenggalek sangat cocok untuk dikembangkan agroforestri. Kondisi inilah menjadi salah satu pertimbangan dipilihnya STP minyak atsiri untuk mendapatkan pendampingan. “Kita tidak bisa mengembangkan pangan yang ekstensif, namun agroforestri justru cocok. Cengkeh kita hanya mengandalkan itu hanya untuk dijual, sekarang bunganya dapat dimanfaatkan untuk atsiri. Kemudian Nilam, bahkan ada komoditi baru seperti sereh wangi yang cocok untuk cetronella oil,” kata Emil.

Melalui inovasi berkelanjutan ini, Emil berharap nantinya minyak atsiri di Kabupaten Trenggalek dapat menembus pasar ekspor, sehingga akan berdampak pada pertumbuhan perekonomian masyarakat. Saat ini, Emil menyebut minyak atsiri di Trenggalek belum mampu menjamah pasar global karena kualitas. “Kita belum sampai benar-benar mengekspor karena hasilnya belum maksimal secara kualitas,” ujarnya sembari berharap nantinya produk ini bisa menjadi ciri khas Kabupaten Trenggalek maupun daerah di zona lingkar wilis.

Namun dengan kolaborasi berbasis Academic, Business, Civil Cociety – Government (ABCG) dalam mengembangkan potensi lokal, Emil meyakini produk yang dihasilkan mampu berkualitas nasional, bahkan internasional. “Misal dengan pendampingan dari Universitas Brawijaya (UB), ada alat-alatnya. Kemudian kami akan menanam demplot-demplot yang lebih luas untuk bibit unggul sehingga hasilnya akan lebih konsisten dari hulu hingga ke hilir,” kata Emil. ABCG mempunyai peran masing-masing baik dari akademisi, bisnis, masyarakat dan pemerintah.

Pasca mendapatkan pendampingan ini, Emil menyebut akan merealisasikannya secara masif dan juga memastikan bahwa masyarakat turut ambil bagian. Pasalnya, metode social innovation design dinilai terbukti ampuh untuk mendorong inovasi beberapa kota di Amerika Serikat. “Nanti selain sesi internal gini kami akan kelapangan, memastikan bahwa masyarakat benar-benar dilibatkan. Jadi ini benar-benar social innovation design. Kita diajarkan seperti itu karena ini sudah terbukti berhasil mendorong inovasi beberapa kota di Amerika,” pungkasnya.

Untuk diketahui, dalam pembukaan acara Boot Camp Bloomberg Harvard City Leadership Initiative di Hotel Bukit Jaas Trenggalek, dihadiri Amanda Noonan pakar innovation social impact dari San Fransisco Amerika Serikat. Kehadiran tim hari Harvard itu untuk melakukan pendampingan inovasi, pasca terpilihnya Kabupaten Trenggalek bersama 40 daerah lain di belahan dunia. Harapannya dengan pelatihan itu bisa merubah pola pikir dalam berinovasi, seperti yang telah diterapkan beberapa kota besar di dunia.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date