Terkait Kasus Guntual Laremba, Ini Komentar Posbakum

Sidoarjo, koranmemo.com – Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Kabupaten Sidoarjo menyayangkan pihak Penyidik Satreskrim Polresta Sidoarjo yang belum menahan tersangka dugaan kasus UU ITE pencemaran nama baik Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo dan tersangka kasus dugaan pemakaian gelar akademik (S.H., Red), Guntual Laremba.

Pasalnya, usai ditetapkan sebagai tersangka atas dua kasus tersebut, Guntual Laremba diduga dengan sengaja membuat surat terbuka yang diposting melalui akun media sosial Facebook pada tanggal 2 Desember 2019 pukul 17:09 dengan nama akun Gunde Guntual.

Isi surat terbuka tersebut menjlentrehkan ketidakpuasan dirinya sebagai korban  kriminalisasi dari salah satu Polres atas permintaan Ketua Pengadilan Negeri setempat.

“Dilaman Facebook itu, akun dengan nama Gunde Guntual menuliskan, pihak Kepolisian menjadi pelindung pelaku kejahatan. Tuduhan itu sangat tidak benar dan Polresta Sidoarjo harus ambil sikap tegas atas hal itu,” jelas Prihartanto Boedi Prasetio, S.H., salah satu pengurus Posbakum Kabupaten Sidoarjo, Senin ( 7/1/2018).

Pengacara Posbakum yang berkantor di Pengadilan Negeri Sidoarjo ini menambahkan, terkait masalah penahanan tersangka, memang kewenangan dari penyidik Polresta Sidoarjo.

“Yang jelas, dimata Posbakum Sidoarjo, penyidikan yang dilakukan penyidik Polresta sudah dilakukan sesuai tupoksinya,” tembahnya.

Dengan belum ditahannya tersangka Guntual, imbuh Pak Bun sapaan akrabnya, tersangka Guntual ini diduga dengan leluasanya bisa berulah lagi.

“Pemilik akun Facebook dengan nama akun Gunde Guntual yang berisi surat terbuka itu diduga dibuat dan diposting melalui media sosial oleh tersangka, (Guntual Laremba, Red). Semoga itu menjadi bahan pertimbangan penyidik Polresta Sidoarjo untuk menahan tersangka Guntual,” bebernya.

Pengacara dan pengurus Posbakum senior ini menambahkan, dalam UU ITE ada aturan yang jelas, jika seseorang dengan sengaja berulah dua kali di Media Sosial, dan viralnya merugikan pihak atau institusi, maka pihak kepolisian harus berani bersikap tegas.

“Sudah dua kali dia berulah di medsos, yang terbaru ini, dia menuduh negatif institusi Polri dan Pengadilan. Jelas Layak ditahan,” harapnya.

Lebih jauh dijelaskan, dalam kasus dugaan pemakaian gelar akademik S.H., tersangka yang mengaku sebagai Ketua Pengadilan Alternatif Indonesia yang berkantor di jalan Taman Ketampon Komplek Permata Bintoro, Surabaya tersebut akan diancam dengan hukuman 5 sampai 10 tahun penjara.

“Untuk kasus pemakaian gelar akademik S.H., itu ancaman hukumanya 5 sampai 10 tahun penjara. Jika menganut ancaman seharusnya tersangka tidak bebas di luaran seperti saat ini. Toh akhirnya dia berulah lagi,” tegas Pak Bun.

Terpisah, Kasatrreskrim Polresta Sidoarjo, Kompol M Harris memaparkan atas dua kasus, UU ITE dan dugaan gelar akademik S.H., yang bersangkutan (Guntual, red) sudah ditetapkan sebagai tersangka.

“Memang yang bersangkutan tidak kami tahan. Yang penting proses perkara ini sudah berjalan. Kita akan buktikan  di meja hijau persidangan atas kedua kasus tersebut,” kata Kasatreskrim Polresta Sidoarjo, Kompol M. Harris.

Ditanya terkait unggahan surat terbuka di akun facebook https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2180425428677014&id=100001287338779 , Harris menjawab singkat.”Saya tindak lanjuti lagi nanti,” jawab tegas Harris.

Sementara, Kasi Pidum (Pidana Umum) Kejari Sidoarjo, Gatot Haryono menegaskan, pihaknya sudah menerima berkas tersangka Guntual Laremba untuk kedua kasus (ITE dan Gelar Akademik red) dari penyidik Satreskrim Polresta Sidoarjo. Bahkan saat ini berkas tersebut sedang diteliti oleh Jaksa Peneliti.

“Saat ini Jaksa Peneliti sedang meneliti berkas atas nama tersangka Guntual Laremba atas Kasus UU ITE maupun untuk kasus pemakaian gelar akademik SH,” kata Gatot.

Gatot menegaskan, untuk kasus dugaan pemakaian gelar akademik pasal yang diterapkan penyidik Satreskrim Polresta Sidoarjo, yakni Pasal 93 UU RI No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

“Dengan ancaman hukuman minimal lima tahun dan maksimal 10 tahun penjara dengan denda Rp 1 milyar,” pungkas Mantan Kasipidum Mojokerto ini.

Disisi lain, Guntual Laremba juga nampak hadir saat salah satu saksi Vanessa Angela memberikan keterangan resmi di Polda Jatim dalam kasus dugaan prostitusi online.

Reporter : Yudhi Ardian

Editor : Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date